Di sebuah sudut Kampung di Kota Pangkal Perjuangan, langkah kaki Syafei biasanya terasa mantap saat hendak mengajar ilmu agama dan pendidikan formal.

Namun, pada pertengahan tahun 2025, langkah itu terasa lebih berat dari biasanya. Istrinya, Hasanah, tengah berjuang melawan kondisi medis yang tidak mudah.

Tepat pada 11 Juni 2025, di Rumah Sakit Lira Medika, sebuah keputusan besar harus diambil.

Akibat kondisi preeklamsia dan air ketuban yang sudah mengering (kasaatan), Ahsani harus lahir lebih awal melalui operasi sesar di usia kandungan yang baru 8 bulan.

Dunia seolah berhenti sejenak saat melihat sang buah hati lahir dengan berat hanya 1,8 kg.

Tak hanya lahir prematur, Ahsani pun harus menerima vonis medis yang menggetarkan hati: kebocoran jantung ganda, yakni ASD (Atrial Septal Defect) dan PDA (Patent Ductus Arteriosus).

Sebagai cucu dari keturunan Pendiri Ponpes , dan anak keempat Syafei-Hasanah, Ahsani mewarisi darah perjuangan.

Namun, perjuangan pertamanya bukan di medan dakwah, melainkan di dalam inkubator ruang NICU.

Satu minggu pertama adalah masa-masa kritis. Napas Ahsani bergantung sepenuhnya pada selang oksigen.

Di luar ruangan, Syafei dan Hasanah tak henti mengetuk pintu langit. Sebagai seorang pengajar agama, Pak Syafei paham betul bahwa:

"Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan." (QS. Al-Insyirah: 6)

Keajaiban pun perlahan hadir. Atas izin Allah, paru-paru kecil itu mulai menguat.
Ahsani mampu melepas ketergantungan oksigennya dan mulai bernapas mandiri.

Namun, ujian ketangguhan bocah mungil ini belum usai. Memasuki usia 2 bulan, Ahsani kembali harus naik ke meja operasi di RS Primaya untuk menjalani tindakan medis akibat penyakit hernia yang dideritanya.

Perjalanan panjang pun berlanjut. Bulan demi bulan dilalui dengan kontrol rutin dan perawatan intensif.

Ketabahan orang tuanya benar-benar diuji untuk menjaga "permata" yang sedang berjuang menyatukan kembali celah di jantungnya sekaligus pulih dari pasca-operasi hernia.

Hingga akhirnya, menjelang usianya yang genap satu tahun, kabar gembira itu datang. Dokter menyatakan Ahsani bebas dari kondisi yang selama ini menghantui.

Jantungnya kini berdetak dengan irama yang sehat, seirama dengan rasa syukur yang membuncah dari keluarga besar di Karawang.

Tiga Hikmah yang Dapat Dipetik:

1.Kekuatan Takdir dan Ikhtiar:

Meski lahir dengan berat badan rendah, kebocoran jantung, hingga harus menjalani operasi hernia di usia sangat dini, jika Allah berkehendak ia hidup, maka tak ada satu pun diagnosa medis yang bisa menghalangi.

2.Sabar adalah Akar, Syukur adalah Buah:

Kesabaran Syafei dan Hasanah dalam menjalani proses kontrol serta berbagai tindakan medis selama setahun membuahkan hasil manis berupa kesehatan paripurna sang anak.

3.Keberkahan Doa Keluarga:

Ahsani membawa estafet keberkahan dari kakek buyutnya. Perjuangan hidupnya di awal usia adalah pengingat bahwa ia adalah anak yang kuat, yang dipersiapkan untuk hal-hal besar di masa depan. ***