POJOKSATU.id, KARAWANG - Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK RI) menyatakan komitmennya untuk terus mengawal program ketahanan pangan dan swasembada pangan nasional yang saat ini menjadi salah satu prioritas utama pemerintah.
Dukungan tersebut disampaikan langsung oleh Pimpinan VII BPK RI, Dr. Slamet Edy Purnomo, saat menghadiri kegiatan Panen Raya Bersama Direktur Utama Perum BULOG dan Pimpinan VII BPK RI di Desa Mekarjaya, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Kamis (11/6/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Slamet Edy memberikan apresiasi terhadap transformasi dan reformasi yang tengah dijalankan Perum BULOG di bawah kepemimpinan Direktur Utama Letjen TNI (Purn) Ahmad Rizal Ramdhani.
Menurutnya, kinerja BULOG sepanjang Semester I 2026 menunjukkan capaian yang sangat menggembirakan, terutama dalam pengelolaan keuangan negara dan realisasi target penyerapan yang dinilai melampaui ekspektasi.
“Kami sangat puas dengan pengelolaan keuangan negara yang dikelola oleh BULOG. Mereka mampu merealisasikan target-target jauh di atas harapan. Ini baru semester pertama, tetapi capaian sudah mencapai lebih dari 70 persen. Menurut saya, ini merupakan prestasi yang luar biasa,” ujar Slamet Edy.
Baca Juga: Panen Raya di Karawang, Bulog Minta Sawah Produktif Tak Dikorbankan untuk Kawasan Komersial
Ia menegaskan bahwa ketahanan pangan tidak hanya berkaitan dengan sektor pertanian, melainkan juga menjadi bagian penting dari ketahanan nasional.
Menurutnya, persoalan pangan memiliki dampak langsung terhadap stabilitas sosial, ekonomi, hingga keamanan negara. Karena itu, keberhasilan menjaga ketersediaan pangan harus menjadi perhatian seluruh elemen bangsa.
“Ketahanan pangan adalah fondasi ketahanan nasional. Jika terjadi gangguan pangan, maka potensi instabilitas sosial dan ekonomi akan semakin besar. Karena itu program swasembada pangan harus terus dijaga dan diperkuat,” katanya.
Sebagai lembaga negara yang independen, BPK RI menegaskan perannya tidak hanya sebatas melakukan audit dan pemeriksaan, tetapi juga memberikan berbagai rekomendasi strategis kepada pemerintah untuk mendukung keberhasilan program nasional.
Slamet Edy menyebut BPK siap membantu mengidentifikasi berbagai hambatan regulasi maupun tata kelola yang berpotensi menghambat kinerja BULOG sebagai operator pangan nasional.
Dalam kesempatan itu, ia juga menyoroti tantangan besar yang dihadapi BULOG dalam menjaga stabilitas harga beras nasional. Menurutnya, tugas tersebut tidak ringan mengingat pangsa pasar BULOG saat ini masih berada di kisaran 10 persen dari total peredaran beras nasional.
Baca Juga: HUT Jakarta ke-499, Transportasi Umum hingga Masuk Ancol dan Ragunan Gratis Selama Dua Hari
“Menjaga stabilitas harga dengan market share sekitar 10 persen tentu bukan pekerjaan mudah. Karena itu ke depan perlu dipikirkan penguatan peran BULOG agar memiliki kewenangan yang lebih luas sehingga dapat menjalankan fungsi stabilisasi secara lebih efektif,” ujarnya.
Di sektor hulu, BPK RI memberikan apresiasi terhadap langkah BULOG yang mulai memperkuat pola penyerapan langsung dari petani.
Kebijakan tersebut dinilai mampu memotong rantai distribusi yang selama ini terlalu panjang dan sering kali mengurangi keuntungan yang diterima petani. Dengan sistem direct access, hasil panen petani dapat langsung terserap dengan harga yang lebih menguntungkan.
Menurut Slamet Edy, kebijakan itu menjadi salah satu instrumen penting dalam meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional dari tingkat produksi.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa sektor pertanian masih menghadapi tantangan serius, terutama terkait semakin menyusutnya luas lahan pertanian produktif akibat alih fungsi lahan dan pembagian waris yang membuat kepemilikan lahan semakin kecil.
Fenomena tersebut banyak terjadi di Pulau Jawa, termasuk di Kabupaten Karawang yang selama ini dikenal sebagai salah satu lumbung padi terbesar di Indonesia.
Baca Juga: Live Streaming Piala Dunia 2026, Begini Cara Nonton Gratis Setiap Pertandingan
Untuk menghadapi kondisi tersebut, BPK RI mendorong pemerintah daerah, BULOG, serta seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat riset dan inovasi di bidang pertanian guna meningkatkan produktivitas lahan.
Menurutnya, peningkatan hasil panen per hektare menjadi solusi paling realistis di tengah keterbatasan lahan yang tersedia saat ini.
“Ke depan kita harus fokus pada peningkatan produktivitas melalui riset dan teknologi. Jika produktivitas meningkat, maka kesejahteraan petani juga akan ikut meningkat,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa penguatan sektor pertanian juga penting untuk menarik minat generasi muda agar kembali melihat profesi petani sebagai pekerjaan yang menjanjikan dan memiliki peran strategis bagi masa depan bangsa. ***




