POJOKSATU.id, KARAWANG - Inovasi teknologi pemecah, peredam ombak, dan perangkap sedimentasi (Appostrap) yang dikembangkan oleh Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ) terbukti menjadi solusi efektif dalam menanggulangi abrasi di Pantai Ciparage, Desa Ciparagejaya, Kecamatan Tempuran, Kabupaten Karawang.

Alat ini telah mampu menciptakan daratan baru yang selama ini terkikis oleh gelombang laut.

Teknologi Appostrap, yang telah dipatenkan oleh Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham), mulai diaplikasikan di Pantai Ciparage sejak 2022.

Menurut Satrio Firdauzi Rojak, Ketua Kelompok Kerja Pemberdayaan Masyarakat Pesisir (KKPMP) Desa Ciparagejaya, alat ini mengalami modifikasi yang signifikan menjadi bentuk segitiga untuk meningkatkan efektivitasnya dalam menangkap sedimentasi.

"Appostrap ini kami patenkan dan aplikasikan pertama kali di sini. Dengan modifikasi berbentuk segitiga, alat ini lebih efektif dalam meredam gelombang dan menangkap sedimentasi. Hasilnya, sekarang kita sudah melihat terbentuknya daratan baru. Program ini akan terus dilanjutkan hingga mencakup area 800 meter dalam tiga tahun ke depan," ungkap Satrio saat ditemui di Pantai Ciparage pada Selasa, 20 Agustus 2024.

Keberhasilan ini tidak lepas dari kolaborasi antara PHE ONWJ dan para ahli kelautan dari Surabaya, yang melakukan penelitian untuk memastikan kekuatan dan efektivitas Appostrap di berbagai kondisi gelombang laut.

Iman Teguh, Penanggung Jawab Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PHE ONWJ, menyatakan bahwa hasil penelitian tersebut memberikan keyakinan bahwa alat ini dapat memberikan manfaat besar bagi masyarakat pesisir.

"Kami terus melakukan modifikasi dan penelitian untuk meningkatkan kekuatan Appostrap. Dengan hasil yang ada saat ini, kami optimis alat ini dapat memberikan dampak positif yang besar, terutama dalam memperluas daratan dan mengurangi risiko abrasi yang mengancam pemukiman warga," jelas Iman.

Teknologi Appostrap juga dianggap sebagai alternatif yang lebih efektif dibandingkan penanaman mangrove. Di wilayah Pantai Ciparage, penanaman mangrove sebelumnya sering mengalami kegagalan karena bibit yang ditanam langsung berhadapan dengan gelombang besar, sehingga tidak sempat berakar kuat sebelum tergerus.

“Penanaman mangrove seringkali tidak berhasil karena ombak besar langsung menghantam bibit yang baru ditanam. Dengan Appostrap, gelombang direndam terlebih dahulu, menciptakan daratan yang lebih stabil. Setelah itu, penanaman mangrove bisa dilakukan dengan hasil yang lebih optimal,” tambah Iman.

Kesuksesan Appostrap di Pantai Ciparage telah mendorong PHE ONWJ untuk memperluas penerapan teknologi ini ke lokasi-lokasi lain, seperti Pantai Pasir Putih di Kabupaten Karawang, serta beberapa wilayah di Kabupaten Subang dan Kabupaten Indramayu.

Di setiap lokasi, Appostrap menunjukkan hasil yang konsisten dalam mengurangi abrasi dan meningkatkan sedimentasi.

PHE ONWJ bersama masyarakat berharap agar program ini terus dikembangkan dan mendapatkan dukungan penuh dari pemerintah daerah.

Kolaborasi yang kuat antara pihak swasta, masyarakat, dan pemerintah diharapkan dapat memperluas manfaat program ini secara berkelanjutan.

Baca Juga: PHE ONWJ Bantu Renovasi Gedung PAUD Mutiara, Sekolah Jadi Nyaman

"Kami berkomitmen untuk bekerja sama dengan pemerintah setempat guna memperluas pemasangan Appostrap. Dukungan ini sangat penting agar program ini dapat memberikan dampak yang lebih luas dan berkelanjutan bagi masyarakat pesisir," tutup Iman.

Dengan inovasi Appostrap, Pantai Ciparage tidak hanya mampu menahan laju abrasi, tetapi juga membuka peluang bagi terciptanya ekosistem baru yang lebih stabil dan berkelanjutan.

Inovasi ini menjadi bukti nyata bahwa teknologi yang tepat guna dapat memberikan manfaat besar bagi lingkungan dan kesejahteraan masyarakat pesisir. ***