Pedagang Sebut Harga Kios Pasar Proklamasi Terlalu Mahal

Pasar Proklamasi Rengasdengklok
Pasar Proklamasi Rengasdengklok

POJOKSATU.id, KARAWANG – Pedagang Pasar Rengasdengklok sebut penolakan relokasi disebabkan karena harga sewa kios terlalu mahal, apa lagi dibebankan uang muka mencapai puluhan juta.


Pedagang sayur di Pasar Rengasdengklok Susi (30) mengatakan, untuk uang muka di pasar Proklamasi (pasar baru) mencapai puluhan juta.

“Harga aja si mas, kita gak sanggup, saya dagang macem-macem, sayuran gitu. Untuk uang muka aja Rp 20 juta,” kata Susi, saat diwawancara di los Pasar Rengasdengklok, Jumat (9/12/22).

Ia menuturkan, untuk calon kios yang akan ditempatinya, berukuran seluas empat meter persegi, harus merogoh kocek uang muka mencapai Rp 20 juta, belum dibebankan setoran dengan durasi kontrak mencapai 20 tahun.


“Kita setoran 20 tahun, nantinya kios itu milik kita, tapi kan harganya ini terlalu mahal, mencapai belasan juta per meter,” kata dia.

Selain itu, kata Susi, selain mahalnya jumlah uang muka dan setoran, pihaknya juga menolak relokasi, karena di pasar Proklamasi dikenakan biaya retribusi.

“Disana juga ada retribusi, kalau disini ada juga sih, tapi kan murah. Pedagang itu dia kalau pindah di lokasi yang baru, pastinya kehilangan pelanggan, belum tentu akan langsung rame,” pungkasnya.

Dikonfirmasi terpisah, Direktur Utama PT Visi Indonesia Mandiri, selaku developer Pasar Proklamasi, Gregorius Samuel Jan mengatakan pembicaraan harga sangat sensitif.

“Kita berbicara harga itu sangat sensitif, mungkin agak panjang yah, kami sangat bervariatif, dari harga yang Rp 14 juta, itu untuk yang los tidak pakai meja, Rp 14 juta itu permeter yah,” ujar Samuel, saat dihubungi.

Lebih lanjut dituturkan Samuel, untuk harga los pakai meja, sebesar Rp 16 juta per meter persegi. Sedangkan untuk harga kios beda lagi.

“Untuk harga kios memang sangat bervariatif, ada yang Rp 17 juta. Bahkan sampai ada yang Rp 21 juta per meter,” kata dia.

Samuel menjelaskan, alasan terjadinya perbedaan harga baik di los maupun kios di Pasar Proklamasi.

“Kita bicara perbedaan harga dari sisi bisnis, kalau yang dua muka, tentu harganya gak bisa sama, sama yang ditengah kan. Kalau yang pakai meja Rp 16 juta harganya kemahalan, kita gak serta merta tentukan harga,” ungkapnya.

Pentauan harga, kata Samuel, sudah melalui proses panjang dengan mengajak perwakilan paguyuban pedagang, Pemda, serta perbankan untuk berdiskusi soal harga.

“Kenapa dibilang harga kami mahal, kami berani diadu dengan pasar yang sejenis dengan yang kami bangun, kita bandingin aple to aple loh, kualitas bangunan juga boleh dicek. Kita juga udah terbitkan sertifikat HGB (hak guna bangunan) di tiap-tiap unit,” pungkasnya.

(Ega Nugraha/Pojoksatu)