POJOKSATU.id, JEMBER - Pemerintah Kabupaten Jember tengah bersiap melakukan gebrakan besar di sektor pelayanan kesehatan masyarakat.
Mulai 24 Juli 2026, layanan fasilitas kesehatan berkonsep Jemput bola atau “Homecare” akan resmi beroperasi secara penuh.
Langkah masif ini tidak main-main karena Pemkab Jember akan menerjunkan ribuan tenaga kesehatan (nakes) yang nantinya disebar ke seluruh pelosok desa untuk menyambangi rumah-rumah warga kurang mampu.
Baca Juga: Besok Panggilan Ketiga Eks Jampidsus Febrie Adriansyah, Kejagung Telah Terbitkan Sprindik Baru
Bupati Jember, Muhammad Fawait (Gus Fawait), membeberkan bahwa peluncuran program prioritas ini akan menjadi tonggak sejarah baru dalam keadilan akses kesehatan di Jember.
"Insyaallah akan kita launching tanggal 24 (Juli), walaupun sudah uji coba beberapa hari yang lalu," ujar Gus Fawait saat ditemui awak media.
Guna memastikan kesiapan di lapangan, bupati menegaskan bahwa proses konsolidasi personel dan armada akan dilakukan satu hari sebelum peluncuran resmi.
Baca Juga: Beasiswa Kedokteran Full ke Jepang Dibuka, Dapat Dana hingga Rp3 Miliar dan Uang Saku Bulanan
Gus Fawait menginstruksikan jajarannya untuk menggelar apel kesiapan kendaraan operasional sekaligus pengecekan kesiapan para tenaga medis yang bertugas.
Bupati mengungkap bahwa jumlah personel yang disiapkan untuk menyukseskan program Homecare ini terbilang sangat fantastis, yakni mencapai sekitar 1.200 orang.
Ribuan petugas medis tersebut nantinya akan menjadi ujung tombak yang terintegrasi dengan 50 puskesmas di seluruh wilayah Kabupaten Jember.
Baca Juga: Alasan Sakit, Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Mangkir Panggilan Kedua Tim 9 Kejagung
Tidak hanya di puskesmas, mereka juga akan ditargetkan sudah mulai berkeliling menyambangi warga pada awal pekan depan.
"Hari Senin sudah bisa keliling-keliling semua, 50 puskesmas. Dan saya bangga kepada para nakes di Jember yang mereka semua siap untuk menyukseskan program Homecare ini," tambahnya.
Di sisi lain, Gus Fawait juga merinci siapa saja yang berhak dan menjadi prioritas utama untuk didatangi langsung oleh tim dokter dan perawat Homecare ini.
Fokus utama dari layanan medis door-to-door ini adalah kelompok rentan yang tidak memiliki akses atau kemampuan fisik untuk datang ke fasilitas kesehatan.
Kategori pertama yang menjadi sorotan bupati adalah kelompok lanjut usia (lansia).
"Beberapa orang di antaranya satu adalah lansia, khususnya lansia tunggal, apalagi yang punya sakit berkepanjangan," tegas Gus Fawait.
Selain lansia yang hidup sebatang kara, bupati juga menaruh perhatian ekstra pada penanganan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) melalui pemantauan ibu hamil.
Baca Juga: Media Sosial dan Remaja Jadi Sorotan, MUI Dorong Penguatan Literasi Digital serta Peran Keluarga
Bupati menuturkan bahwa ibu hamil dengan status risiko tinggi dari keluarga prasejahtera mutlak mendapat pendampingan dari tim Homecare.
Hal ini dilakukan karena mereka seringkali tidak memiliki biaya untuk rutin memeriksakan kandungan ke dokter spesialis.
Selanjutnya, anak-anak yang terindikasi mengalami gizi buruk kronis atau stunting juga masuk dalam daftar tunggu kunjungan wajib tim medis.
Baca Juga: Menlu AS Akui Pertahanan Udaranya Bocor, Iran Miliki Teknologi Rudal Canggih
Tidak ketinggalan, warga penyandang disabilitas serta masyarakat miskin yang menderita penyakit menahun turut dipastikan masuk ke dalam kriteria penerima layanan kesehatan gratis ini.
Melalui pemetaan sasaran yang sangat spesifik ini, Gus Fawait berharap program Homecare tidak salah sasaran dan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat bawah.
Kehadiran 1.200 personel medis langsung ke pintu-pintu rumah warga diharapkan mampu menghapus stigma bahwa orang miskin dilarang sakit karena kendala biaya dan akses transportasi. ***



