POJOKSATU.id, JEMBER – Pemerintah Kabupaten Jember melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) terus meningkatkan status kesiapsiagaan.

Hal itu menyusul adanya transisi dan perubahan musim yang mulai terasa di Kabupaten Jember.

Pola ancaman bencana kini mulai bergeser; dari bencana hidrometeorologi di musim penghujan, beralih pada ancaman kekeringan dan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di musim kemarau.

Baca Juga: Benarkah Ribuan ASN Dikabarkan Banyak Mundur, BKN Akhirnya Buka Suara Soal Fakta Sebenarnya!

Kepala BPBD Kabupaten Jember, Edy Budi Susilo, membeberkan bahwa rentetan peristiwa alam di wilayahnya cukup padat.

Sepanjang semester pertama tahun 2026 saja, pihaknya telah mencatat dan menangani setidaknya 345 kejadian bencana yang tersebar di berbagai kecamatan, dengan rincian 274 bencana alam dan 71 insiden non-alam.

“Bencana alam paling banyak karena pada saat itu merupakan musim penghujan, sehingga bencana hidrometeorologi mendominasi. Mulai dari banjir, tanah longsor, hingga angin kencang yang menyebabkan rumah maupun pohon roboh,” ujar Edy saat memaparkan data, Kamis, (3/9/2026)

Baca Juga: Kabar Lega Bagi PPPK Paruh Waktu, BKN Buktikan Skema Pengangkatan Penuh Waktu Sudah Jalan!

Edy menjelaskan, pada periode musim penghujan tersebut, musibah banjir bandang menjadi salah satu fokus utama BPBD.

Sapuan air bah tercatat berdampak di sejumlah titik, mulai dari kawasan hulu Sungai Badean hingga merendam wilayah Pakis dan Ambulu.

Pilunya, rentetan bencana hidrometeorologi tersebut turut merenggut dua korban jiwa di wilayah Pakis dan Curahmalang.

Baca Juga: IPB University Kembangkan Growth Promotor Sirkular dari Rumput Laut dan By-product Perikanan di Tambak Indramayu

Kini, memasuki fase musim kemarau yang menyengat, konsentrasi BPBD Jember dihadapkan pada ancaman krisis air bersih.

Hingga 31 Agustus 2026, status darurat kekeringan telah ditangani di delapan kecamatan, meliputi Pakusari, Kalisat, Sumbersari, Silo, Bangsalsari, Jelbuk, Rambipuji, dan Patrang. Tercatat lebih dari 1.000 Kepala Keluarga (KK) terdampak langsung krisis ini.

Guna menekan dampak kekeringan, BPBD terus bermanuver membagikan air bersih ke pelosok desa.

Baca Juga: Setjen DPR RI Buka Magang untuk Siswa SMA/SMK hingga Mahasiswa, Ini Posisi dan Cara Daftarnya

Tercatat sudah ada 507.500 liter air yang didistribusikan melalui 103 kali perjalanan armada tangki.

Terkait jadwal pengiriman, Edy menegaskan bahwa distribusi dilakukan secara terukur berdasarkan hasil asesmen lapangan, sehingga bantuan bisa tepat sasaran sesuai dengan tingkat keparahan wilayah terdampak.

“Bisa jadi ada yang dua hari sekali terkirim, ada yang tiga hari sekali, ada yang empat hari sekali, tergantung dari jumlah KK terdampaknya,” terangnya lebih rinci.

Baca Juga: Bikin Heboh Medsos, Benarkah Kantor Telkom di Gatot Subroto Mau Diambil Alih Badan Gizi Nasional?

Menariknya, berdasarkan evaluasi pemetaan BPBD, krisis kekeringan tahun ini rupanya turut merambah kawasan yang sebelumnya berstatus zona hijau atau aman, seperti di Desa Banjarsari (Kecamatan Bangsalsari) dan Desa Panduman (Kecamatan Jelbuk).

Sebagai langkah antisipasi musim kemarau yang diprediksi baru akan berakhir pada bulan Oktober mendatang, BPBD telah menempatkan 30 tandon air raksasa di berbagai titik krusial.

Selain krisis air, bayang-bayang Karhutla juga mulai mengintai Jember.

Baca Juga: Di Depan Putin, Prabowo Tegaskan Pembangunan Tak Boleh Cuma Dinikmati Segelintir Orang

Hingga akhir Agustus, BPBD mencatat telah terjadi kebakaran di tiga kawasan hutan dan 10 area lahan terbuka.

Salah satu insiden terparah menghanguskan sekitar 6,5 hektare area di Gunung Watangan, Desa Lojejer, yang akhirnya berhasil dipadamkan melalui sinergi bersama Perhutani, Muspika, dan relawan gabungan.

Menutup keterangannya, Edy memberikan imbauan keras kepada masyarakat, khususnya para pemilik lahan, agar menahan diri untuk tidak melakukan aktivitas pembakaran sampah maupun rumput kering selama musim kemarau guna mencegah terjadinya kebakaran hebat yang merugikan.***