POJOKSATU.id, JEMBER – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jember mencatat adanya peningkatan aktivitas seismik yang cukup signifikan di wilayahnya. 

Sepanjang periode Januari hingga awal September 2026, tercatat setidaknya lima kali guncangan gempa bumi melanda kawasan Jember dan sekitarnya.

Kepala BPBD Kabupaten Jember, Edy Budi Susilo, membenarkan rentetan peristiwa alam tersebut. 

Baca Juga: Keracunan MBG Terus Berulang dan tak Pernah Dipidana, tapi Keracunan Hajatan Langsung Proses

Dari hasil pendataan instansinya, guncangan paling mematikan dan dahsyat terjadi pada pertengahan bulan lalu, yang titik pusatnya justru berada tepat di kawasan padat penduduk.

"Berdasarkan pemantauan kami sejak awal tahun, terdapat lima aktivitas seismik yang dampaknya dirasakan di Jember. Peristiwa paling besar tercatat pada 15 Agustus 2026 dengan magnitudo 7,7 yang berpusat di Kecamatan Sumbersari," ujar Edy Budi Susilo memberikan keterangan, Kamis (3/9/2026).

Secara kronologis, Edy memaparkan bahwa rangkaian kewaspadaan gempa tahun ini bermula saat guncangan berkekuatan 5,5 SR melanda timur laut Pacitan pada 27 Januari 2026. 

Baca Juga: Barantin Dorong Dokter Hewan Karantina Perkuat Integritas dan Kompetensi

Kemudian disusul gempa lebih kuat bermagnitudo 6,4 di wilayah yang sama pada 6 Februari 2026.

Setelah periode tersebut, pergeseran lempeng mulai berdampak langsung pada titik-titik lokal di Jember.

"Selanjutnya, aktivitas gempa bergeser ke area lokal Jember, dimulai dari gempa 5,1 SR di tenggara Jember pada 26 Mei, gempa utama 7,7 SR di Sumbersari pada 15 Agustus, hingga gempa skala kecil 2,8 SR di barat daya Jember pada 1 September," lanjutnya merinci.

Baca Juga: KA Gunungjati Makin Diminati, 188 Ribu Penumpang Pilih Naik Kereta dari Cirebon ke Jakarta

Merespons tingginya ancaman bahaya yang mengintai, BPBD Jember memastikan pihaknya tidak akan tinggal diam.

Edy menekankan bahwa instansinya saat ini tengah berfokus penuh pada langkah mitigasi agar masyarakat tidak panik dan lebih siap menghadapi kondisi darurat. 

Beragam edukasi, pelatihan, hingga simulasi kebencanaan terus digencarkan secara masif ke berbagai lapisan masyarakat.

Upaya mitigasi yang mengakar ke bawah ini diwujudkan melalui penguatan program Desa/Kelurahan Tangguh Bencana (DESTANA) di tingkat wilayah, serta penerapan standar Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) di sekolah-sekolah.

Baca Juga: Kebalikan Klaim Prabowo dan BPS, Indonesia Rangking 4 Negara dengan Penduduk Miskin Terbanyak, Penentuan Desil Akal-akalan?

Tak berhenti di lingkungan permukiman dan sarana pendidikan, BPBD Jember rupanya juga melebarkan sayap edukasi dengan merangkul instansi pemerintahan dan sektor dunia usaha.

Menurut Edy, sosialisasi kesiapsiagaan di perkantoran sangatlah krusial. 

Hal tersebut bertujuan agar seluruh elemen masyarakat benar-benar memiliki naluri yang sama dalam membaca potensi risiko, sehingga dampak kerusakan fisik maupun jatuhnya korban jiwa dapat ditekan seminimal mungkin jika sewaktu-waktu bencana kembali datang. ***