POJOKSATU.id, JEMBER - Dampak kemacetan parah di kawasan Tanjung Wangi, Banyuwangi, kini mulai merembet menjadi krisis bahan bakar di kabupaten tetangga.
Hingga Senin (7/9/2026), antrean panjang kendaraan yang mengular di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) masih mewarnai wilayah Kabupaten Jember.
Kelangkaan tidak hanya terjadi pada pasokan BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Solar.
Baca Juga: Bupati Mandailing Natal Ditantang Bersihkan Pemkab dari Pejabat Terindikasi Judol
Antrean pembeli bahan bakar non-subsidi sekelas Pertamax pun dilaporkan ikut merambat dan mengular panjang di berbagai titik.
Kondisi ini mencekik kantong sebagian warga yang tak memiliki banyak waktu untuk mengantre berjam-jam.
Yosiska, seorang warga Ajung, mengaku terpaksa merogoh kocek lebih dalam demi menjaga agar mobilitas kendaraannya tetap berjalan lancar.
Baca Juga: Appreciation Night Lions Clubs Distrik 307 A1, Martha Stefanie Raih Penghargaan Excellent President
Ia terpaksa beralih membeli Pertamax eceran di kawasan Ajung, Jember, dengan harga yang melonjak dramatis hingga menyentuh angka Rp18.000 per liter.
"Antrean di SPBU luar biasa panjang. Mau tidak mau beli eceran di pinggir jalan meski harganya melambung tinggi," ungkap Yosiska saat ditemui pada Senin (7/9/2026).
Tersendatnya pasokan BBM di kawasan Tapal Kuda yang meliputi Jember, Bondowoso, Situbondo, dan Banyuwangi ini merupakan efek domino dari lumpuhnya arus lalu lintas di Tanjung Wangi sejak Kamis (3/9/2026) lalu.
Kemacetan mengular sepanjang 12 hingga 15 kilometer akibat tingginya kepadatan kendaraan menuju pelabuhan.
Situasi ini juga sempat diperparah oleh aksi penyampaian aspirasi pengemudi angkutan di kawasan ASDP.
Arus lalu lintas yang mengunci hingga tiga jalur tersebut membuat armada mobil tangki Pertamina tak berdaya.
Waktu tempuh pengiriman yang pada kondisi normal hanya memakan waktu 8 hingga 10 jam, kini melonjak tajam menjadi 15 hingga 23 jam.
Mobil tangki pengangkut BBM hanya bisa merayap 7 hingga 8 menit, lalu terpaksa berhenti total hingga satu jam lamanya.
Baca Juga: TGB dan Gus Kautsar Bantah Kirim Tulisan, Buku 'Islam Ala Prabowo' Kini Dipertanyakan
Menanggapi kepanikan warga dan menipisnya stok di lapangan, PT Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus langsung mengoperasikan skema darurat alih suplai (rerouting) guna menembus blokade kemacetan.
Area Manager Comm, Rel. & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi, menjelaskan bahwa pihak Pertamina terus berkoordinasi secara intensif dengan aparat terkait.
Mulai dari pihak kepolisian seperti Satlantas, KP3, Polairud, hingga TNI setempat untuk memberikan prioritas jalan bagi pergerakan mobil tangki BBM.
Baca Juga: Viral Info Kepala PVMBG Tegaskan Erupsi Anak Krakatau Berakhir, Kini Aktivitas Erupsi Strombolian
"Kami memahami kondisi kemacetan di kawasan Tanjung Wangi berdampak pada waktu tempuh mobil tangki. Namun, Pertamina terus melakukan berbagai langkah agar distribusi BBM tetap berjalan," terang Ahad Rahedi dalam keterangan resminya.
Untuk menyelamatkan ketersediaan pasokan BBM di kawasan terdampak, Pertamina telah mengerahkan armada pasokan bantuan dari wilayah luar Tanjung Wangi dengan rincian skema pengalihan sebagai berikut:
Pertama, pasokan dari jalur Barat dialihkan melalui Malang dengan mengerahkan armada tangki berkapasitas besar sebanyak 112 Kiloliter (KL), ditambah dengan dukungan pasokan dari Madiun.
Baca Juga: KAI Belum Beberkan Sebab 12 Perjalanan KRL Bogor-Jakarta Dibatalkan, Semua Keberangkatan Pagi
Kedua, pasokan dari jalur Surabaya dan estafet dikirim melalui Integrated Terminal (IT) Surabaya sebanyak 472 KL.
Ketiga, dukungan armada estafet juga didatangkan dari Madiun sebanyak 150 KL, Tuban 72 KL, dan Camplong Madura 48 KL, sehingga total pasokan estafet ini mencapai 270 KL.
Di samping memastikan kelancaran jalur distribusi, pihak Pertamina juga menjamin ketersediaan logistik dan konsumsi bagi para awak mobil tangki yang terpaksa bertahan di tengah kemacetan panjang tersebut.
Ahad Rahedi secara khusus mengimbau masyarakat di Jember dan sekitarnya untuk tetap tenang.
Ia berharap masyarakat tidak terpancing melakukan pembelian BBM secara berlebihan atau panic buying karena proses alih suplai pasokan terus dipacu secara masif.
Ia menegaskan bahwa prioritas utama Pertamina saat ini adalah memastikan ketersediaan BBM bagi masyarakat tetap terjaga, serta proses distribusi terus dimonitor dan dievaluasi secara berkala. ***



