POJOKSATU.id, JEMBER – Tim dosen Politeknik Negeri Jember (Polije) kembali menunjukkan aksi nyata dalam mendukung kemajuan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Kali ini, mereka menggelar program pengabdian masyarakat di UMKM Gandrung Banyuwangi, Desa Yosomulyo.

Melalui sentuhan akademisi, program ini berfokus pada penerapan rekayasa bahan baku serta otomasi alat pengolahan untuk produk dodol buah naga.

Baca Juga: Judul Berita Genjot Daya Saing Produk Agro Jabar, Komisi II DPRD Desak Modernisasi Lab dan Tambah Anggaran

Kegiatan strategis ini dipimpin langsung oleh Findi Citra Kusumasari, S.Pd., M.Si., bersama dua anggota tim lainnya, yakni Emi Kurniawati, S.Si., M.P., dan Mohammad Edwinsyah Yanuan Putra, S.S.T., M.Tr.P.

Kehadiran mereka bertujuan untuk menciptakan efisiensi produksi yang mampu mendongkrak daya saing produk lokal di pasaran.

Salah satu terobosan utama yang dibawa oleh tim dosen Polije adalah mengolah buah naga segar menjadi bentuk tepung.

Baca Juga: Lupa PIN Kredivo, Apakah Tetap Bisa Mengajukan Penutupan Akun?

Langkah taktis ini diambil guna menjamin pasokan bahan baku tetap aman dan stabil.

Tak hanya itu, tim juga menyerahkan bantuan berupa mesin pengaduk otomatis guna menghemat tenaga kerja dan mempercepat proses pengolahan.

Ketua Tim Pengabdian Polije, Findi Citra Kusumasari, memaparkan bahwa perubahan besar dalam sebuah usaha memerlukan pendekatan ganda.

Baca Juga: Aksi Cepat Korban Gagalkan Curanmor di Karawang, Terduga Pelaku Ditangkap di Dekat Hotel

"Transformasi sistem produksi tidak hanya melalui modernisasi peralatan, tetapi juga inovasi bahan baku," ujarnya.

Menurut Findi, peralihan menggunakan bahan baku tepung buah naga akan memberikan fleksibilitas tinggi terhadap kelancaran rantai suplai UMKM.

"Tepung buah naga memberikan fleksibilitas produksi, sedangkan mesin pengaduk otomatis meningkatkan efisiensi kerja dan menjaga kualitas produk," jelasnya lebih lanjut.

Kehadiran teknologi dan pendampingan higienitas ini mendapat apresiasi tinggi dari Pemilik UMKM Gandrung Banyuwangi, Krismina Dewi.

Ia mengakui bahwa inovasi dari kampus tersebut sukses mengurai benang kusut terkait kendala kapasitas produksi yang selama ini mereka hadapi.

Baca Juga: Nilai Tukar Rupiah Ambruk Rp 18.055 per Dolar AS pada Perdagangan Selasa

"Tepung buah naga dan mesin pengaduk otomatis menjadi solusi atas berbagai kendala produksi kami," ungkap Krismina.

Kini, dengan melonjaknya kapasitas produksi harian, UMKM Gandrung Banyuwangi menjadi lebih leluasa dalam memenuhi tingginya permintaan pasar sekaligus mempertahankan kelangsungan bisnis di tengah persaingan yang ketat.

Ia juga memastikan bahwa modernisasi ini sama sekali tidak mengubah kualitas produknya.

Baca Juga: 3 Cara Memulai Kelas agar Murid Langsung Fokus Sejak Menit Pertama

"Inovasi ini menjaga kontinuitas produksi, menghemat waktu, dan meningkatkan kapasitas tanpa mengurangi cita rasa khas dodol," tambahnya.

Sebagai informasi, program yang menjadi bukti nyata keberhasilan hilirisasi riset kampus di daerah ini dapat terlaksana berkat dukungan penuh dari Ditjen Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek, yang mengucurkan pendanaan melalui skema BIMA 2026.***