POJOKSATU.id, JEMBER - Tim mahasiswa Politeknik Negeri Jember (Polije) berhasil menciptakan inovasi media pembelajaran yang diberi nama Sensory-Magnetic Board.
Karya edukatif berbasis visual dan taktil ini sukses membantu proses edukasi gizi bagi anak berkebutuhan khusus di SLB-C TPA Jember, terutama dalam mengenalkan jenis jajanan yang sehat.
Ketua Tim Polije, Diana Tasya Eza Arifin, menjelaskan bahwa program pendampingan ini secara khusus difokuskan pada anak dengan kondisi autisme dan ADHD.
Baca Juga: BRICS Siapkan Jalur Pembayaran Lintas Negara, Transaksi Dagang Ingin Dibuat Lebih Murah
Langkah inovatif tersebut dirancang untuk membentuk pola makan yang sehat, sekaligus melatih kemandirian anak dalam memilih jajanan sejak usia dini.
Media edukasi karya mahasiswa Polije ini terbilang unik karena memadukan konsep warna Traffic Light Nutrition yang dilengkapi dengan tekstur berbeda pada setiap zonanya.
Zona hijau menandakan makanan aman, kuning berarti konsumsinya harus dibatasi, sedangkan merah mengindikasikan bahwa jajanan tersebut berbahaya atau tidak sehat.
Baca Juga: Pertamina Patra Niaga Bagikan 11 Ribu Masker Respons Erupsi Gunung Anak Krakatau
Program edukasi gizi ini dijalankan secara bertahap dan terstruktur sejak bulan Juli hingga September.
Diana memaparkan bahwa pada tahap awal, timnya mengukur pengetahuan dasar para siswa melalui kegiatan pre-test.
Setelah itu, tim Polije mulai mengenalkan makna warna serta tekstur pada zona papan sensori di minggu kedua dan ketiga masa pendampingan.
Baca Juga: Sosok Willi Mbuik ASN yang Gugur Ditembak KKB, Si Bungsu yang Suka Telpon Ayah Usai Terima Gaji
Memasuki minggu keempat dan kelima, para siswa mulai diajak berlatih memilah replika makanan sesuai dengan zonanya masing-masing.
Pendampingan intensif ini terus berlanjut hingga minggu kesebelas demi membiasakan sepuluh siswa bermain sambil belajar secara mandiri, sebelum akhirnya ditutup dengan post-test untuk mengukur tingkat keberhasilan edukasi.
"Setelah diimplementasikan, kami melihat anak-anak sudah mulai bisa membedakan mana jajanan yang sehat dan tidak sehat," ujar Diana Tasya Eza Arifin.
Pendampingan dari tim Polije ini terbukti membawa dampak positif secara langsung terhadap perubahan kebiasaan konsumsi harian para siswa SLB-C TPA Jember.
Baca Juga: KKB Rampas HP ASN Willi Mbuik yang Mereka Tembak Lalu Video Call Ayahnya Sambil Tertawa
Anak-anak yang sebelumnya gemar mengonsumsi keripik dan minuman kemasan, kini mulai beralih memilih makanan sehat seperti buah melon, telur puyuh, serta tahu dan tempe.
Antusiasme tinggi juga terlihat setiap kali para siswa menempelkan replika makanan bermagnet ke papan sensori secara mandiri.
Melihat keberhasilan tersebut, Diana berharap terobosan edukasi gizi yang adaptif ini dapat diterapkan lebih luas di masa mendatang.
Baca Juga: Terapi ABK Tak Harus Menunggu Sebulan, Mahasiswa UNDIP Hadirkan SAPA ABK
"Kami berharap dengan adanya program ini, siswa lainnya juga bisa mendapatkan pembelajaran tentang jajanan sehat," tutup Diana. ***



