POJOKSATU.ID - Sebuah lomba mewarnai tingkat TK di PAUD Mutiara, Batang, mendadak menjadi sorotan.
Setelah beberapa karya anak TK didiskualifikasi lantaran dianggap “terlalu rapi” untuk ukuran usia mereka.
Insiden ini kemudian viral di media sosial dan menuai kecaman warganet terhadap panitia lomba.
Orang tua peserta mengaku heran saat nama anak mereka tak muncul di daftar juara meski hasil karyanya dengan teknik gradasi dan detail warna yang baik.
Baca Juga: DPRD Pandeglang Desak Penegakan Aturan Fasos-Fasum bagi Pengembang
“Semua peserta yang hasilnya bagus malah didiskualifikasi karena dianggap dibantu orang tua,” tulis salah satu orang tua dalam unggahan yang kini viral.
Saat diklarifikasi, panitia lomba disebut memberi alasan yang mengejutkan.
Teknik pewarnaan halus semacam gradasi dianggap mustahil dilakukan sendiri oleh anak TK, maka karya tersebut dianggap curang atau dibantu orang tua.
Unggahan itu langsung dibanjiri komentar netizen. “Logika panitia di mana? Anak zaman sekarang banyak belajar online, les gambar, kenapa langsung dicurigai?”.
Baca Juga: Bunda PAUD Banten Raih Apresiasi Nasional, Bukti Nyata Dedikasi untuk Anak Negeri
Buntut keputusan tersebut, suasana lomba yang semula penuh semangat berubah menjadi kericuhan kecil di lokasi.
Beberapa orang tua memilih meninggalkan arena dengan menolak hasil penjurian.
Sementara itu, panitia hingga kini belum memberikan pernyataan resmi terkait protes yang muncul.
Insiden ini menimbulkan pertanyaan mendasar tentang relevansi sistem penilaian dalam lomba anak-anak di era modern.
Apakah mekanisme yang digunakan selama ini benar-benar sesuai dengan perkembangan kemampuan dan lingkungan belajar generasi masa kini?
Banyak psikolog anak menilai bahwa kemampuan artistik dan detail visual pada anak-anak saat ini bisa berkembang jauh lebih cepat.
Berkat akses pada media digital, video tutorial, hingga les privat yang memperkaya keterampilan mereka sejak usia dini.
Dengan kemajuan semacam itu, kemampuan menggambar atau mewarnai yang rapi dan presisi bukan lagi hal yang mustahil bagi anak usia sekolah dasar.
Namun ironinya, ketika sistem lomba yang seharusnya mendorong kreativitas justru menghukum hasil karya yang dianggap “terlalu bagus”.
Pesan pendidikan yang ingin ditanamkan pun menjadi kabur.
Anak yang semestinya bangga dengan hasil karyanya bisa kehilangan rasa percaya diri, bahkan merasa bersalah karena dianggap “tidak wajar”.
Situasi seperti ini dapat berdampak negatif pada perkembangan psikologis anak.
Baca Juga: Apindo Gandeng Gubernur Banten, Siapkan SMK Jadi Pabrik SDM Siap Kerja
Terutama dalam hal keberanian berekspresi dan penghargaan terhadap kerja keras.
Kekecewaan para orang tua menjadi sorotan tersendiri.
Mereka menilai bahwa panitia seharusnya melakukan evaluasi mendalam terhadap standar penilaian.
Agar setiap peserta tanpa memandang tingkat kemampuan, mendapat perlakuan yang adil dan edukatif.
Penilaian dalam lomba anak seharusnya tidak berhenti pada hasil akhir.
Melainkan juga memperhatikan proses, usaha, dan perkembangan karakter anak selama berkarya.
Bagi banyak keluarga, hasil lomba bukan hanya tentang piala atau juara, melainkan pengakuan atas dedikasi dan latihan panjang yang dilakukan anak dengan sepenuh hati.
Maka, ketika karya yang dibuat dengan sungguh-sungguh justru dicurigai sebagai hasil bantuan orang dewasa.
Nilai nilai kejujuran dan penghargaan terhadap kreativitas anak pun ikut ternoda.
Peristiwa ini menjadi pengingat penting bahwa dalam setiap ajang yang melibatkan anak, pendidikan karakter harus tetap menjadi prioritas di atas kompetisi.***

