POJOKSATU.ID – Provinsi Jambi dinilai memiliki peluang besar untuk memperkuat transformasi ekonomi daerah melalui tata kelola sumber daya alam (SDA) yang berkelanjutan dan berorientasi pada peningkatan nilai tambah industri.

Hal tersebut disampaikan Guru Besar Universitas Jambi, Prof. Dr. H. Haryadi, S.E., M.M.S., dalam opini ekonominya terkait arah pembangunan daerah.

Menurut Haryadi, kekayaan SDA seperti perkebunan sawit, karet, batu bara, migas, hingga hasil hutan selama ini masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Provinsi Jambi.

Baca Juga: Gaji ke-13 Tahun 2026 Segera Cair, PP Nomor 9 Atur Jadwal dan Daftar Penerima

Pada Triwulan I Tahun 2026, ekonomi Jambi disebut masih menunjukkan daya tahan yang cukup baik di tengah perlambatan ekonomi global.

“Persoalan utama ekonomi Jambi bukan terletak pada kurangnya sumber daya alam, tetapi bagaimana tata kelola SDA mampu menciptakan kesejahteraan yang berkeadilan, inklusif, dan berkelanjutan,” ujar Haryadi.

Ia menilai pembangunan ekonomi daerah selama ini masih cenderung bergerak dalam pola ekstraktif yang berorientasi pada pertumbuhan jangka pendek tanpa diimbangi penguatan keberlanjutan lingkungan dan ekonomi jangka panjang.

Baca Juga: Guru ASN Wajib Tahu, Permendikdasmen Nomor 10 Tahun 2026 Atur TPG Bulanan dan Penghentiannya

Menurutnya, kondisi tersebut terlihat dari masih rendahnya hilirisasi industri di Jambi.

Komoditas unggulan seperti sawit, karet, dan batu bara sebagian besar masih dipasarkan dalam bentuk bahan mentah atau setengah jadi sehingga nilai tambah ekonomi lebih banyak mengalir keluar daerah.

Haryadi juga menyoroti dampak sosial dari aktivitas ekonomi berbasis SDA, salah satunya kerusakan jalan akibat angkutan batu bara yang dinilai menjadi contoh nyata paradoks pembangunan daerah.

Baca Juga: Jangan Sampai Terlewat, 5 Data Info GTK Ini Menentukan SKTP Mei 2026 Terbit

“Aktivitas ekonomi yang seharusnya mendorong kesejahteraan justru menimbulkan biaya sosial yang besar bagi masyarakat,” tulisnya.

Ia menegaskan, pembangunan ekonomi modern tidak cukup hanya mengejar angka pertumbuhan, tetapi juga harus memperhatikan kualitas lingkungan, pemerataan kesejahteraan, serta keberlanjutan antargenerasi.

Karena itu, pemerintah daerah dinilai perlu mempercepat hilirisasi industri dan mendorong investasi pada sektor pengolahan sawit, karet, pinang, serta produk turunan pertanian lainnya agar nilai tambah ekonomi dapat dinikmati di dalam daerah.

Selain hilirisasi, diversifikasi ekonomi juga disebut menjadi kebutuhan penting agar Jambi tidak terlalu bergantung pada komoditas primer yang rentan terhadap fluktuasi harga global.

Pengembangan sektor jasa, ekonomi kreatif, industri pengolahan, pariwisata, hingga ekonomi digital dinilai perlu menjadi bagian dari strategi pembangunan jangka panjang daerah.

Baca Juga: Kabar Gembira! Saldo BPNT April–Juni 2026 Masuk ke KKS BNI, Ini Wilayah yang Sudah Cair

Dalam konteks pembangunan berkelanjutan, Haryadi menilai konsep ekonomi hijau atau green economy harus mulai menjadi bagian penting dalam arah pembangunan Jambi seiring meningkatnya tren investasi berbasis Environmental, Social, and Governance (ESG).

Ia menyebut rehabilitasi lingkungan, perlindungan kawasan hutan, pertanian berkelanjutan, energi terbarukan, hingga perdagangan karbon perlu diposisikan sebagai strategi ekonomi masa depan.

Selain itu, kualitas sumber daya manusia juga dinilai menjadi faktor penting dalam mendukung transformasi ekonomi daerah. Penguatan pendidikan vokasi, pelatihan kerja, serta pengembangan inovasi daerah disebut harus menjadi prioritas pembangunan.

Baca Juga: Viral Video AI Bareng Cristiano Ronaldo, Begini Cara Membuatnya agar Terlihat Realistis

Haryadi menambahkan, sinergi antara pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, dan masyarakat diperlukan agar pembangunan ekonomi daerah berjalan lebih terintegrasi dan berkelanjutan.

“Sudah saatnya kekayaan sumber daya alam tidak hanya menjadi sumber pertumbuhan ekonomi jangka pendek, tetapi juga menjadi fondasi pembangunan ekonomi yang adil, inklusif, dan berkelanjutan bagi masyarakat Jambi,” tutupnya.***