POJOKSATU.id, JAKARTA—Tak lama usai Board of Peace (BoP) atau Dewan Perdamaian dibentuk Presiden AS Donald Trump dan kepala negara lainnya, Israel melancarkan serangan ke pengungsi Gaza.
Menyikapi serangan Israel ini, Anggota Komisi I DPR Syamsu Rizal mengeluarkan pernyataan dan mengecam keras hal itu.
Diketahui, Israel menyerang Kamp Pengungsi Ghaith, Al-Mawasi, Khan Younis, Jalur Gaza, Sabtu (31/1).
Sedikitnya 32 warga Palestina tewas. Korban tewas dilaporkan termasuk perempuan dan anak-anak.
Warga Palestina menggambarkan rangkaian serangan ini sebagai yang paling intens sejak fase kedua gencatan senjata mulai berlaku awal bulan ini.
Anggota Komisi I DPR Syamsu Rizal menilai serangan itu sebagai bentuk kejahatan kemanusiaan yang terang-terangan dan tidak dapat dibenarkan dengan alasan apa pun.
“Ini adalah serangan biadab yang mencederai nilai-nilai kemanusiaan dan merusak gencatan senjata. Dunia internasional tidak boleh diam,” tegas Daeng Ical, sapaan akrabnya, Minggu 1 Februari 2026.
Ia menyoroti fakta bahwa serangan tersebut terjadi tak lama setelah deklarasi pembentukan Board of Peace (BoP) atau Dewan Perdamaian yang digagas Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Baca Juga: Militer Iran Aktifkan 1.000 Drone Tempur Hadapi Perang dengan Amerika Serikat
Aksi Israel justru menghancurkan kredibilitas lembaga perdamaian yang baru dibentuk itu.
“Serangan ini merusak gencatan senjata sekaligus mencoreng citra Board of Peace. Israel jelas tidak layak menjadi anggota Dewan Perdamaian,” ujar politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu.
Daeng Ical menegaskan bahwa Israel harus dikeluarkan dari BoP, karena sebagai negara penjajah yang terus-menerus membunuh rakyat Gaza, Israel tidak pantas duduk dalam forum yang mengatasnamakan perdamaian.
“Jika Israel tetap menjadi anggota BoP, maka organisasi ini hanya akan dijadikan alat untuk melegitimasi pembunuhan warga Gaza dan pengusiran rakyat Palestina dari tanahnya sendiri,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa dengan dalih menyerang Hamas, Israel akan terus membombardir Gaza secara membabi buta.
Hamas selalu dijadikan alasan, padahal yang menjadi korban adalah rakyat sipil baik anak-anak, perempuan, dan pengungsi.
Diketahui, sedikitnya 32 warga Palestina tewas akibat gelombang serangan udara Israel yang menghantam Jalur Gaza pada Sabtu (31/1/29026), menurut otoritas setempat. Korban tewas dilaporkan termasuk perempuan dan anak-anak.
Badan pertahanan sipil Gaza, yang dikelola Hamas, menyebut salah satu serangan menghantam tenda pengungsian di Khan Younis, Gaza selatan, setelah ditembak oleh helikopter tempur Israel.
Warga Palestina menggambarkan rangkaian serangan ini sebagai yang paling intens sejak fase kedua gencatan senjata mulai berlaku awal bulan Januari 2026 ini.***

