POJOKSATU.ID- Dengan konflik Ukraina yang memasuki tahun ketiga, Uni Eropa kini mengambil langkah serius dengan mengimbau 450 juta warganya untuk mempersiapkan tugas darurat yang mampu menunjang kebutuhan hidup selama 72 jam pertama dalam situasi darurat.
Langkah ini merupakan bagian dari strategi kesiapsiagaan baru Uni Eropa dalam menghadapi ancaman yang semakin kompleks—mulai dari perang konvensional, serangan siber, hingga bencana alam.
Hadja Lahbib, pejabat yang bertanggung jawab atas krisis manajemen Komisi Eropa, menegaskan keseriusan situasi saat ini sebagaimana dilansir dari ABC News.
Selama tiga tahun perang di Ukraina, kita telah menyaksikan medan perang berupa bom dan peluru, drone, pesawat tempur, parit dan kapal selam.
"Keamanan Eropa secara langsung terancam oleh hal ini, juga terancam oleh medan perang di saku kita; baik ponsel, komputer, pembangkit listrik, bank, maupun rantai pasokan kita."
Strategi Kesiapsiagaan UE baru yang diumumkan Lahbib mencakup puluhan poin tindakan, termasuk pembentukan pusat koordinasi krisis.
Juga memerintahkan seluruh penduduk untuk menyiapkan tas darurat dengan makanan dan persediaan yang cukup untuk bertahan hidup selama tiga hari pertama dalam keadaan darurat.
Mengapa 72 Jam? Periode 72 jam pertama saat krisis sering kali merupakan masa yang paling kacau.
“Tiga hari pertama krisis biasanya merupakan waktu kekacauan, dan jika Anda ingin menghindari kekacauan ini, strategi kesiapsiagaan ini dirancang sebagai pendekatan seluruh masyarakat,” kata juru bicara Komisi Eropa untuk kesiapsiagaan, Eva Hrncirova.
Profesor Lucy Easthope, ahli risiko dan bahaya dari Universitas Durham yang menjadi penasihat kantor perdana menteri Inggris selama pandemi COVID, menjelaskan hal berikut sebagaimana dilansir dari ABC News.
"Ide 72 jam, yang kita lihat dalam pengumuman UE ini, memiliki sejarah panjang yang digunakan di Australia untuk hal-hal seperti strategi kesiapsiagaan cuaca buruk.
"Konsep 72 jam pada dasarnya adalah membeli waktu untuk keadaan darurat."
Meskipun negara-negara yang berbatasan dengan Rusia dianggap paling rentan terhadap invasi militer atau serangan udara, kewaspadaan darurat ini juga relevan untuk negara-negara lain.
Jerman, Spanyol, dan Yunani telah dilanda banjir mematikan dan peristiwa cuaca ekstrem lainnya dalam beberapa tahun terakhir.
Strategi kesiapsiagaan UE merupakan bagian dari upaya yang lebih luas untuk memastikan blok tersebut siap mempertahankan diri terhadap ancaman apa pun yang mungkin terjadi.
Hal ini terutama mengingat tanda-tanda berkurangnya dukungan dari Amerika Serikat.
Pelajaran Bagi Indonesia: Pentingnya Mempersiapkan Menghadapi Krisis
Indonesia sebagai negara yang rawan bencana alam perlu belajar dari strategi kesiapsiagaan Uni Eropa ini.
Masyarakat Indonesia, terutama yang tinggal di daerah rawan bencana seperti pesisir, lereng gunung berapi, atau wilayah rawan banjir, perlu memiliki tugas darurat serupa.
Profesor Easthope menekankan bahwa persiapan darurat atau "persiapan" sering kali memiliki reputasi buruk karena cenderung dikaitkan dengan "agama apokaliptik" dan "bunker besar di bawah rumah orang."
Padahal, ini sebenarnya adalah cara bagi keluarga biasa untuk mengambil kembali kendali ketika terjadi hal-hal yang tidak terduga.
Dunia selalu bergejolak seperti ini, bergolak seperti ini, dan selama beberapa tahun orang mampu percaya pada mitos.
"Mitos bahwa pemerintah semua negara mendukung mereka... itu selalu mitos, dan mereka yang bekerja dalam manajemen bencana selalu tahu itu," kata Profesor Easthope.
Berikut adalah daftar barang yang direkomendasikan oleh Komisioner Bantuan Kemanusiaan dan Manajemen Krisis Uni Eropa, Hadja Lahbib.
- Pengirim
- Korek api dan pemantik
- Pisau serba guna
- Air minum
- Obat-obatan
- Makanan untuk 72 jam
- Uang tunai
- Pengisi daya ponsel dan power bank
- Radio
Di tengah ketegangan geopolitik dan perubahan iklim global, mempersiapkan tugas bertahan hidup 72 jam bukanlah tindakan paranoid, melainkan langkah bijak yang dapat menyelamatkan nyawa dalam situasi darurat.
Hal ini sebagaimana kata pepatah, “siap siaga adalah setengah dari kemenangan.”
Apakah Anda sudah mempersiapkan tugas darurat untuk keluarga Anda? Jika belum, mungkin sekarang adalah waktu yang tepat untuk memulai.***
