POJOKSATU.ID - Presiden Amerika Serikat Donald Trump dikabarkan tengah mempertimbangkan langkah mengejutkan dalam konflik dengan Iran.

Ia disebut siap mengakhiri kampanye militer meski Selat Hormuz jalur vital perdagangan energi dunia belum sepenuhnya dibuka.

Laporan ini pertama kali diungkap oleh The Wall Street Journal yang menyebut Trump telah menyampaikan sikap tersebut kepada para ajudannya.

Baca Juga: WFH Satu Hari dalam Sepekan Bukan Sekadar Aturan Baru, Pemerintah Klaim Bisa Hemat BBM hingga Rp 59 Triliun

Dalam pertimbangannya, pembukaan kembali Selat Hormuz dinilai terlalu kompleks dan berisiko memperpanjang konflik.

“Trump juga menunda operasi kompleks untuk membukanya kembali ke waktu yang akan datang,” demikian laporan Wall Street Journal pada Senin, mengutip para pejabat pemerintah, seperti dikutip Financial Express, Selasa 31 Maret 2026.

Menurut sumber pejabat pemerintah AS, operasi militer untuk membuka jalur tersebut bisa memakan waktu lebih lama dari target awal, yakni sekitar empat hingga enam minggu.

Baca Juga: Istana Tegaskan Tak Ada Kenaikan Harga BBM Subsidi dan Nonsubsidi Mulai 1 April 2026, Masyarakat Diminta Tetap Tenang

Karena itu, Trump memilih fokus pada strategi lain yang dinilai lebih realistis.

Pendekatan yang kini dipertimbangkan adalah melemahkan kekuatan militer Iran, terutama di sektor angkatan laut dan sistem rudalnya.

Setelah itu, AS akan mendorong jalur diplomasi agar Iran bersedia membuka kembali akses perdagangan internasional.

Baca Juga: Mahasiswa UINSU Wajib Tahu! Beasiswa Bank Indonesia 2026 Dibuka hingga 9 April, Cek Syarat Lengkapnya dan Prodi yang Tersedia

Jika upaya diplomasi gagal, Washington dikabarkan akan melibatkan sekutu di kawasan Eropa dan Teluk untuk mengambil peran dalam mengamankan jalur tersebut. Meski opsi militer tetap ada, langkah itu bukan lagi prioritas utama.

Menariknya, pernyataan tersebut langsung berdampak pada pasar global. Harga minyak dunia sempat turun, dengan West Texas Intermediate berada di bawah USD102 per barel setelah sebelumnya melonjak tajam akibat ketegangan di kawasan Timur Tengah.

Di sisi lain, pasar saham Asia menunjukkan pergerakan yang fluktuatif. Indeks regional sempat menguat sebelum akhirnya melemah, mencerminkan ketidakpastian yang masih membayangi situasi geopolitik global.

Meski menyatakan kesiapan untuk mengakhiri perang, Amerika Serikat justru meningkatkan kehadiran militernya di kawasan.

Sejumlah kapal perang dan pasukan tambahan telah dikerahkan, menunjukkan bahwa opsi tekanan tetap disiapkan.

Baca Juga: Simak, Jadwal dan Dokumen Daftar Ulang Calon Mahasiswa Baru ITB Jalur SNBP 2026, Dilengkapi Rincian Lengkap UKT

Selat Hormuz sendiri menjadi titik krusial dalam konflik ini. Jalur sempit tersebut merupakan salah satu rute utama distribusi minyak dunia.

Penutupan yang berkepanjangan berpotensi mengganggu pasokan energi global dan memicu tekanan ekonomi di berbagai negara.

Dengan kondisi ini, dunia kini menanti langkah selanjutnya dari Washington dan Teheran. Apakah konflik benar-benar akan mereda, atau justru memasuki babak baru yang lebih kompleks.***