POJOKSATU.id, JAKARTA— Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengklaim Iran masih memiliki sekitar 21 hingga 22 persen rudal.
Trump juga mengungkap Iran merupakan negara kuat dan rakyat Iran bangga akan hal tersebut .
Hal tersebut disampaikan Trump dalam program "Meet the Press" di NBC News yang dirilis pada Jumat (5/6/2026).
Saat ditanya mengapa para pemimpin Iran belum juga bersedia menyepakati perjanjian damai meskipun berada dalam posisi sulit, Trump menyatakan bahwa proses tersebut membutuhkan waktu.
Baca Juga: Warga Gelar Kajian APBDes, Pemdes Japura Kidul Tak Hadir dan Dinilai Menghindari Klarifikasi
"Karena mereka kuat. Mereka bangga. Ada hal-hal yang tidak pernah mereka duga akan mereka lakukan, yang kini harus mereka lakukan. Mereka tidak punya pilihan, dan itu membutuhkan sedikit waktu," ujar Trump, sebagaimana dilansir Reuters.
Trump menambahkan, meskipun sebagian besar fasilitas manufaktur drone dan rudal Iran telah hancur akibat serangan, Teheran diperkirakan masih memiliki sekitar seperlima dari total pasokan rudal mereka.
"Mereka memiliki beberapa rudal, mereka memiliki beberapa drone. Saya akan mengatakan dari segi persentase, mungkin 21 persen hingga 22 persen dari rudal mereka," tutur Trump.
"Itu jumlah rudal yang banyak, tetapi tidak seperti saat pertama kali kita menyerang," lanjutnya.
Baca Juga: Sasar Kapal Perang dan Peluncuran Rudal, AS Serang Pelabuhan Bandar Abbas di Iran Selatan
Pernyataan tersebut mengemuka di tengah eskalasi terbaru yang terjadi pada Sabtu (6/6/2026). Pasukan militer AS dilaporkan melancarkan serangan terhadap situs radar pantai milik Iran.
Langkah ini diambil setelah AS menembak jatuh empat drone yang diluncurkan oleh Iran menuju Selat Hormuz, yang diyakini militer AS tengah menargetkan lalu lintas maritim regional.
Komando Pusat AS atau Central Command (Centcom) melalui media sosial X mengonfirmasi bahwa serangan balasan AS menyasar situs pengawasan Iran yang berada di Goruk dan Pulau Qeshm, yang terletak di Selat Hormuz.
Insiden ini diprediksi akan semakin mempersulit upaya diplomatik untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung selama tiga bulan.
Perang tersebut pecah sejak Israel dan AS melancarkan serangan udara ke Iran pada 28 Februari.
Saat ini, AS dan Iran sebenarnya tengah terlibat dalam negosiasi tidak langsung untuk mengamankan kesepakatan sementara guna menghentikan perang. ***

