POJOKSATU.ID - Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memunculkan pernyataan yang saling bertolak belakang.
Presiden AS Donald Trump mengklaim bahwa Iran sebenarnya ingin mencapai kesepakatan damai, namun tidak berani mengungkapkannya secara terbuka.
Dalam pernyataannya, Trump menyebut para pemimpin Iran berada dalam posisi tertekan.
Baca Juga: Kebijakan Baru CPNS 2026! Usia 40 Tahun Masih Bisa Daftar di Formasi Tertentu, Ini Syarat Lengkapnya
Ia bahkan menuding bahwa keinginan untuk berdamai ditahan karena kekhawatiran terhadap reaksi internal maupun tekanan dari Amerika Serikat.
“Mereka ingin membuat kesepakatan, tapi takut mengatakannya. Mereka khawatir bisa dibunuh oleh rakyatnya sendiri, dan juga takut pada kami,” ujar Trump dikutip dari Reuters.
Trump juga menilai posisi Amerika Serikat saat ini sangat dominan dalam konflik di Timur Tengah. Ia menyebut kondisi tersebut sebagai sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Baca Juga: Update CPNS 2026! Ini Bocoran Rapat Menteri Soal Formasi, Jadwal Pendaftaran dan Syarat Lengkapnya
Namun, klaim tersebut langsung dibantah oleh Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi. Ia menegaskan bahwa hingga kini tidak ada proses negosiasi langsung antara Iran dan Amerika Serikat.
Menurut Araghchi, komunikasi yang terjadi hanya sebatas pertukaran pesan melalui negara-negara perantara, bukan dialog resmi yang mengarah pada kesepakatan damai.
“Pesan yang disampaikan melalui pihak ketiga bukanlah negosiasi. Itu hanya pertukaran pandangan,” tegasnya.
Baca Juga: Ancaman PHK Massal PPPK Menguat! DPR Minta Aturan Belanja Pegawai 30 Persen APBD Ditunda
Di sisi lain, Amerika Serikat sebelumnya menyebut bahwa pembicaraan menuju perdamaian masih berlangsung dan dinilai cukup produktif.
Bahkan, Washington disebut telah mengajukan proposal yang berisi 15 poin.
Isi proposal tersebut mencakup sejumlah tuntutan penting, seperti penghentian program nuklir Iran, pemusnahan stok uranium yang telah diperkaya, hingga pembatasan pengembangan rudal balistik.
Selain itu, Iran juga diminta untuk menghentikan dukungan terhadap kelompok sekutu di kawasan Timur Tengah.
Meski demikian, hingga saat ini Iran masih mengkaji proposal tersebut dan belum menunjukkan tanda akan menerima tawaran tersebut.
Situasi ini menandakan bahwa jalan menuju perdamaian masih panjang. Ketegangan yang terus meningkat membuat dunia internasional terus memantau perkembangan konflik ini dengan penuh kekhawatiran.***

