POJOKSATU.id - Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali membuat pernyataan keras soal konflik dengan Iran.

Kali ini, Trump mengeklaim bahwa Iran sedang berada dalam "kondisi kolaps" dan disebut ingin Amerika Serikat segera membuka kembali Selat Hormuz.

Pernyataan itu disampaikan Trump melalui unggahannya di media sosial Truth Social.

Ia menulis, "Iran baru saja memberi tahu kami bahwa mereka berada dalam 'kondisi kolaps'. Mereka ingin kami 'membuka Selat Hormuz' secepat mungkin, sementara mereka berusaha menyelesaikan persoalan kepemimpinan mereka."

Baca Juga: UIN Bandung Tancap Gas Buka Prodi Kedokteran, Workshop 4 Hari Digelar untuk Siapkan Fakultas Baru

Meski begitu, Trump tidak menjelaskan siapa pihak yang menyampaikan pesan tersebut atau bagaimana komunikasi itu terjadi.

Klaim tersebut pun langsung memicu perhatian luas karena muncul di tengah situasi perang yang belum mereda.

Kondisi makin panas karena Amerika Serikat kini sedang dikejar tenggat waktu penting.

Berdasarkan War Powers Act 1973, presiden AS memiliki batas waktu hingga 1 Mei 2026 untuk meminta persetujuan Kongres bila ingin melanjutkan operasi militer terhadap Iran.

Baca Juga: KKN UIN Bandung 2026 Resmi Dibuka, Ada 12 Jenis Program dan 2 Skema Baru yang Jadi Sorotan

Aturan itu mewajibkan presiden membatasi pengerahan militer dalam konflik setelah 60 hari, kecuali mendapat izin khusus dari Kongres.

Langkah ini membuat langkah Trump kini berada di bawah sorotan politik dalam negeri.

Di sisi lain, laporan terbaru menyebut Trump tidak puas dengan proposal Iran untuk melanjutkan perundingan damai putaran kedua di Islamabad, Pakistan.

Iran disebut ingin pembahasan difokuskan lebih dulu pada Selat Hormuz dan menunda isu nuklir, yang justru menjadi prioritas utama Washington.

Baca Juga: Tahukah kamu? Dunia Memperingati International Jazz Day Setiap 30 April

Gedung Putih juga memberi sinyal tegas. Juru bicara Olivia Wales menyatakan,

"Kami sudah jelas mengenai garis merah kami, dan Presiden hanya akan menyetujui kesepakatan yang baik bagi rakyat Amerika dan dunia."

Sementara itu, pemerintah Iran menepis anggapan bahwa kepemimpinan mereka sedang runtuh.

Sejumlah pejabat mengeluarkan pernyataan yang menunjukkan persatuan nasional.

Baca Juga: Sudah Diceraikan Secara Agama, Fatimah Azzahra Ajukan Gugatan Cerai Sebelum Isu Viral Mencuat

Juru bicara militer Iran bahkan menegaskan konflik belum selesai.

"Kami tidak menganggap perang telah berakhir. Situasi masih dianggap sebagai masa perang," ungkapnya.

Pernyataan itu memperlihatkan bahwa tensi kedua negara masih sangat tinggi.

Jika tidak ada jalan damai dalam waktu dekat, kawasan Timur Tengah berpotensi kembali menghadapi gejolak besar, terutama terkait jalur energi dunia di Selat Hormuz.

Baca Juga: Universitas Prasetiya Mulya, Pelopor Sekolah Bisnis yang Cetak Wirausaha Muda Indonesia

Saat para pemimpin saling mengeluarkan ancaman, masyarakat biasa sering menjadi pihak yang paling cemas menunggu akibatnya.

Dunia tentu berharap suara senjata berhenti lebih dulu, sebelum semuanya terlambat.***