POJOKSATU.ID - Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memicu kontroversi global.
Dalam pernyataan terbarunya, ia secara terang-terangan mengaku ingin mengambil alih minyak Iran bahkan menyebut pihak yang mempertanyakan langkah itu sebagai “orang bodoh”.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump dalam wawancara dengan Financial Times pada Minggu (30/3/2026).
Baca Juga: Pemilik Ayam Geprek Bekasi Ungkap Korban Pekerja Lepas di Kiosnya dan Dua Pelaku Pegawai Tetap
Ia mengungkap bahwa salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah menguasai pusat ekspor minyak Iran, yakni Pulau Kharg.
“Sejujurnya, hal yang paling saya sukai adalah mengambil minyak Iran, tetapi ada beberapa orang bodoh di AS yang bertanya kenapa. Mereka orang bodoh,” kata Trump.
Tak hanya sekadar wacana, Trump juga membuka kemungkinan pengerahan pasukan Amerika Serikat untuk menguasai wilayah strategis tersebut.
Baca Juga: Ini Ranking Terbaru Timnas Indonesia Usai Kalah dari Bulgaria, 1 April Resmi Dirilis FIFA
Ia bahkan menyebut kehadiran militer AS bisa berlangsung dalam jangka waktu lama jika rencana itu dijalankan.
“Mungkin kita ambil Pulau Kharg, mungkin tidak. Kita punya banyak opsi. Itu berarti kita harus berada di sana untuk sementara waktu,” ujarnya.
Pulau Kharg sendiri bukan lokasi sembarangan. Wilayah ini dikenal sebagai jantung ekspor minyak Iran yang menangani sekitar 90 persen pengiriman minyak mentah negara tersebut.
Pernyataan Trump ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran.
Sebelumnya, militer AS juga dilaporkan telah melancarkan serangan ke fasilitas militer di kawasan tersebut, meski tidak menyasar infrastruktur minyak secara langsung.
Menariknya, Trump juga membandingkan rencananya ini dengan langkah AS di Venezuela.
Ia menyebut ambisi untuk menguasai sektor minyak negara tersebut sebagai preseden yang bisa diterapkan di Iran.
Pernyataan kontroversial ini langsung menuai sorotan, bukan hanya dari komunitas internasional, tetapi juga dari dalam negeri AS sendiri.
Banyak pihak menilai rencana tersebut berisiko memicu konflik lebih luas di kawasan Timur Tengah.
Selain itu, dampaknya juga terasa pada sektor energi global. Ketegangan yang meningkat membuat harga minyak dunia melonjak tajam dan memicu kekhawatiran akan krisis energi baru.
Hingga kini, belum ada keputusan final terkait langkah yang akan diambil Washington. Namun satu hal jelas, pernyataan Trump kembali menegaskan pendekatan kerasnya dalam geopolitik energi dunia.***

