POJOKSATU.ID - Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat tajam.

Israel dilaporkan tengah mempersiapkan mobilisasi besar-besaran hingga 400.000 tentara cadangan sebagai bagian dari rencana memperluas operasi militernya di Lebanon.

Langkah ini disebut-sebut sebagai sinyal kuat bahwa konflik di kawasan tersebut akan semakin meluas, khususnya dalam menghadapi kelompok Hizbullah yang berbasis di Lebanon selatan.

Baca Juga: Anak Harimau Benggala di Bandung Zoo Mati Akibat Virus Bawaan Induk, Satu Ekor Masih Dirawat Intensif

Laporan sejumlah media menyebutkan, angka 400.000 tentara tersebut merupakan batas maksimal yang disetujui pemerintah Israel.

Artinya, tidak seluruh pasukan akan langsung dikerahkan, namun disiapkan untuk berbagai kemungkinan skenario perang.

Seiring rencana tersebut, intensitas serangan Israel juga dilaporkan meningkat.

Baca Juga: Usai Mudik Lebaran, Ini 5 Langkah Perawatan Motor agar Performa Tetap Optimal

Serangan udara menyasar berbagai wilayah di Lebanon, termasuk pinggiran selatan Beirut serta sejumlah kota di bagian selatan dan timur.

Dampaknya pun mulai terasa serius. Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat puluhan korban jiwa dalam 24 jam terakhir, dengan total korban tewas sejak awal Maret telah melampaui seribu orang. Ribuan lainnya mengalami luka-luka.

Tak hanya itu, konflik ini juga memicu krisis kemanusiaan. Lebih dari satu juta warga Lebanon dilaporkan mengungsi akibat eskalasi serangan yang terus meningkat.

Baca Juga: Hari Pertama Kerja Usai Lebaran, 2.708 ASN Kemensos Absen Tanpa Keterangan, Gus Ipul Siapkan Sanksi Tegas

Rencana mobilisasi besar ini juga dikaitkan dengan upaya Israel membentuk “zona penyangga” di wilayah Lebanon selatan.

Tujuannya adalah untuk mencegah serangan lintas batas yang selama ini menjadi ancaman keamanan.

Namun, langkah tersebut dinilai berisiko memperpanjang konflik dan memperluas dampak geopolitik di kawasan. Keterlibatan pihak lain, termasuk Iran, turut memperbesar potensi eskalasi yang lebih luas.

Di tengah situasi yang semakin memanas, dunia internasional kini menaruh perhatian besar terhadap perkembangan konflik ini.

Jika mobilisasi pasukan benar-benar dilakukan secara penuh, bukan tidak mungkin perang akan memasuki fase yang lebih besar dan kompleks.***