POJOKSATU.ID – Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat tajam setelah Israel melancarkan serangan udara ke sejumlah wilayah di Lebanon, termasuk ibu kota Beirut, pada Senin (2/3/2026).

Serangan ini terjadi di tengah konflik yang lebih luas menyusul eskalasi antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Militer Israel menyatakan operasi skala besar juga tengah berlangsung di Teheran.

Baca Juga: Tenang Tinggalkan Rumah Saat Mudik Lebaran, Ini Checklist Wajib Biar Aman dan Nyaman

Situasi tersebut semakin mempertegas meluasnya konflik regional yang kini melibatkan lebih banyak pihak.

Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan sedikitnya 31 orang meninggal dunia akibat serangan udara tersebut, dilansir dari instagram @buschoo.

Selain itu, sebanyak 149 orang lainnya dilaporkan mengalami luka-luka.

Baca Juga: 28 Ribu Warga Cirebon Dinonaktifkan dari JKN, DPRD Desak Pemkot Siapkan Skema Perlindungan Transisi

Serangan ini disebut-sebut sebagai respons Israel terhadap keterlibatan Hizbullah dalam dinamika konflik yang sedang berlangsung.

Pemerintah Lebanon pun angkat bicara terkait situasi tersebut.

Perdana Menteri Lebanon, Nawaf Salam, menyalahkan tindakan Hizbullah yang dinilai memicu balasan dari Israel.

Baca Juga: Loper Koran dan Kurir Tentara Itu Akhirnya Jadi Wakil Presiden RI, Anak Supir Ambulan yang Sejak SD Sudah Terlihat Kepemimpinannya

Ia menyebut langkah kelompok tersebut tidak bertanggung jawab dan berpotensi membahayakan keamanan nasional Lebanon.

Sementara itu, Presiden Lebanon Joseph Aoun memperingatkan risiko negaranya terseret lebih jauh dalam konflik regional yang semakin meluas.

Ia menekankan pentingnya menjaga stabilitas di tengah situasi yang sangat sensitif.

Di wilayah Lebanon selatan, warga dilaporkan mulai mengungsi setelah militer Israel mengeluarkan peringatan evakuasi massal di puluhan kota dan desa.

Peringatan tersebut disampaikan sebelum serangan dilancarkan.

Baca Juga: Rumah Politik Indonesia: Harusnya Kritik Disampaikan dengan Gagasan, Bukan Makian ke Aparat yang Berujung Hilangnya Etika

Militer Israel mengklaim bahwa serangan udara menargetkan posisi strategis serta anggota senior Hizbullah di kawasan selatan Beirut.

Mereka menyatakan operasi dilakukan sebagai langkah defensif atas ancaman yang dianggap membahayakan keamanan Israel.

Situasi ini semakin memperlihatkan rapuhnya gencatan senjata yang sebelumnya diupayakan di kawasan tersebut.

Baca Juga: Tak Mampu Bayar Zakat Fitrah, Wajib Qadha atau Tidak? Ini Penjelasan Ulama Syafi’iyah

Eskalasi terbaru menimbulkan kekhawatiran akan terjadinya perang yang lebih luas di Timur Tengah.

Pengamat menilai, jika konflik terus melebar, dampaknya bukan hanya dirasakan oleh negara-negara yang terlibat langsung, tetapi juga dapat memengaruhi stabilitas ekonomi global, termasuk harga energi dan distribusi perdagangan internasional.

Hingga kini, belum ada tanda-tanda meredanya ketegangan. Komunitas internasional pun menyerukan penahanan diri dari semua pihak guna mencegah jatuhnya korban lebih banyak.

Perkembangan situasi di Lebanon dan kawasan Timur Tengah akan terus menjadi perhatian dunia, mengingat potensi dampaknya yang luas dan kompleks.***