POJOKSATU.ID - Situasi keamanan di Timur Tengah kembali memanas setelah serangan terbaru menghantam pangkalan militer di Irak barat.
Serangan tersebut menewaskan sedikitnya tujuh personel keamanan dan melukai belasan lainnya.
Kementerian Pertahanan Irak menyebut insiden terjadi pada Rabu (25/3/2026) di sebuah pangkalan militer di Provinsi Anbar, Dilansir AFP.
Baca Juga: Suhu 36 Derajat dan 33 Titik Panas, Sumut Masuk Fase Rawan Kebakaran
Lokasi itu diketahui menjadi markas bagi pasukan keamanan reguler serta anggota Hashed al-Shaabi atau Pasukan Mobilisasi Populer.
Serangan ini menjadi yang kedua dalam dua hari terakhir di lokasi yang sama. Sehari sebelumnya, serangan serupa dilaporkan menewaskan 15 anggota PMF, termasuk seorang komandan.
Dalam keterangan resminya, Kementerian Pertahanan Irak mengungkapkan bahwa selain korban jiwa, terdapat 13 personel yang mengalami luka-luka.
Serangan udara juga dilaporkan menghantam fasilitas klinik militer di dalam kompleks pangkalan.
Pemerintah Irak mengecam keras serangan tersebut dan menyebutnya sebagai pelanggaran serius terhadap hukum internasional, khususnya karena menyasar fasilitas medis dan tenaga kesehatan.
“Operasi penyelamatan masih berlangsung untuk mengevakuasi korban,” demikian pernyataan resmi yang disampaikan.
Baca Juga: TPG THR 100 Persen 2026 Diatur Ulang, Benarkah Guru Daerah Bisa Tak Dapat?
Seorang pejabat keamanan menambahkan, salah satu korban tewas adalah seorang dokter militer. Sementara korban luka sebagian besar berasal dari anggota PMF.
Di tengah situasi ini, pemerintah Irak berencana membawa kasus tersebut ke Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai bentuk protes resmi.
Sementara itu, PMF menuding Amerika Serikat sebagai pihak yang bertanggung jawab atas serangan sebelumnya.
Pentagon sendiri mengakui bahwa helikopter tempur AS melakukan serangan terhadap kelompok bersenjata pro-Iran di Irak.
Baca Juga: Kebijakan Baru CPNS 2026! Usia 40 Tahun Masih Bisa Daftar di Formasi Tertentu, Ini Syarat Lengkapnya
Ketegangan di kawasan semakin meningkat sejak konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran pecah pada akhir Februari lalu. Dampaknya kini meluas ke berbagai wilayah, termasuk Irak.
Situasi ini memicu kekhawatiran global akan potensi eskalasi konflik yang lebih besar, dengan dampak kemanusiaan dan geopolitik yang semakin luas.***

