POJOKSATU.id, JAKARTA— Pasukan militer Israel melakukan invasi darat ke Lebanon selatan pada Selasa (1/10) malam waktu setempat. Tidak ada perlawanan sama sekali dari tentara Lebanon.
Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengklaim serangan darat ‘terbatas’ ke Lebanon selatan dengan target infrastruktur Hizbullah yang terletak di desa-desa dekat perbatasan.
Juru bicara IDF meminta penduduk di sejumlah desa di sana untuk mengungsi dan pindah ke utara sungai Awali.
Militer Israel juga mengimbau agar penduduk Lebanon tak bepergian ke wilayah selatan, terutama Sungai Litani.
Baca Juga: Kabar Terbaru Usai Iran Serang Israel, Presiden AS Langsung Bantu Pertahanan Tel Aviv Raya
Invasi darat ini diluncurkan ketika konflik antara Israel dan milisi Hizbullah panas, terutama sejak pemimpin Hizbullah Hassan Nasrallah tewas di Beirut dalam serangan Israel pada Jumat (27/9/2024) lalu.
Tentara Lebanon Tak Melawan
Lebanon selatan merupakan basis dari Hizbullah. Hizbullah bukanlah militer atau tentara resmi dari Lebanon. Mereka adalah organisasi politik dan paramiliter.
Negara Lebanon sendiri memiliki tentara. Mengutip EuroNews, seorang jenderal yang sedang cuti dari tentara Lebanon dan profesor geopolitik di Universitas St Joseph Beirut, Khalil Helou, menyebut Angkatan Bersenjata Lebanon telah mengalami perpecahan.
Adapun salah satu dampaknya adalah menjadikan angkatan darat dibiarkan sendiri.
"Selama ini, dan untuk waktu yang lama, telah terjadi perpecahan yang ekstrem. Angkatan darat dibiarkan sendiri. Sekarang siapa pun yang memimpin angkatan darat, siapa pun yang menjadi panglima tertinggi angkatan darat, mereka harus mengambil keputusan yang mereka anggap tepat," ujar Khalil Helou, Rabu (2/10/2024) di EuroNews.
Pada kasus pembiaran yang dilakukan tentara Lebanon di perbatasan saat melihat invasi Israel, kemungkinan mereka memang diperintahkan untuk mundur.
Maka dari itu, tentara yang berjaga di sana tidak melakukan kontak senjata apa pun, termasuk menghalangi pasukan Israel.
Mengutip EuroNews, militer Lebanon disebut juga tidak melawan invasi Israel karena mempertimbangkan resolusi PBB.
Khalil Helou menyebut Lebanon selatan dan Lembah Bekka yang saat ini menjadi target serangan Israel, seharusnya berada di bawah naungan hukum Resolusi 1701 Dewan Keamanan (DK) PBB.
Resolusi itu diteken pada 2006 dan berisi seruan gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah. Selain itu, Resolusi 1701 juga berisikan amanat pembentukan UNIFIL serta memberikan peran kepada tentara Lebanon untuk mengerahkan pasukan secara bersama-sama dengan persetujuan pemerintah yang sah.
Berkaca pada resolusi tersebut, baik Israel dan Hizbullah sebenarnya telah melanggar Resolusi 1701 dengan melakukan perang di Lebanon selatan.
Pada situasi ini, militer Lebanon dihadapkan pada dilema untuk menghadapi Israel atau melucuti senjata Hizbullah secara paksa.***

