POJOKSATU.id,--Pemerintah Spanyol bersikap tegas menutup wilayah udaranya bagi pesawat militer Amerika Serikat (AS) yang terlibat dalam konflik Iran.

Keputusan ini disampaikan Menteri Pertahanan Margarita Robles yang menegaskan bahwa Spanyol tidak akan memberikan dukungan logistik dalam bentuk apa pun terhadap operasi militer tersebut.

Kebijakan ini menandai sikap keras Spanyol yang menolak keterlibatan dalam konflik yang kian memanas di Timur Tengah (Timteng).

Keputusan Spanyol ini dinilai sebagai sinyal adanya perbedaan sikap di antara negara-negara Barat terkait konflik Iran.

Di tengah eskalasi militer, tidak semua sekutu AS bersedia memberikan dukungan penuh.

Baca Juga: Oei Al-Kaff

Langkah Spanyol berpotensi memicu dinamika baru dalam hubungan transatlantik, sekaligus mempertegas posisi sebagian negara Eropa yang lebih memilih jalur diplomasi dibanding keterlibatan militer.

“Kami tidak mengizinkan penggunaan pangkalan militer maupun wilayah udara untuk tindakan yang terkait dengan perang di Iran,” ujarnya dikutip dari Reuters, Selasa 31 Maret 2026.

Dengan penutupan wilayah udara, Spanyol semakin memperjelas posisinya untuk tidak terlibat, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Laporan awal mengenai kebijakan ini muncul dari media lokal El Pais, yang mengutip sumber militer.

Baca Juga: Jaga Keselamatan Perjalanan, KAI Daop 3 Cirebon Gelar Tes Narkoba kepada Petugas Penjaga Perlintasan KA

Dampaknya, pesawat militer yang menuju kawasan Timur Tengah kini harus mengubah rute dan menghindari wilayah udara Spanyol, kecuali dalam kondisi darurat.

Pemerintah Spanyol menegaskan bahwa keputusan ini didasarkan pada prinsip politik luar negeri mereka yang menolak konflik bersenjata yang dinilai tidak sah.

Langkah ini bukan keputusan yang berdiri sendiri, sebelumnya, pemerintah Spanyol juga telah menolak penggunaan pangkalan militer bersama oleh AS.

Sementara Menteri Ekonomi Carlos Cuerpo menyatakan bahwa perang tersebut dipandang sebagai tindakan sepihak yang bertentangan dengan hukum internasional.

Sikap ini sekaligus memperkuat posisi Perdana Menteri Pedro Sanchez, yang sejak awal menjadi salah satu pemimpin Eropa paling vokal dalam menentang serangan AS dan Israel terhadap Iran.

Sanchez bahkan menyebut langkah militer tersebut sebagai tindakan sembrono dan tidak sah, menandakan ketegangan diplomatik yang semakin meningkat di antara sekutu Barat.***