POJOKSATU.id,-- Komandan Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Laksamana Madya Alireza Tangsiri, tewas atau gugur akibat serangan gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Alireza Tangsiri, komandan Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran dikonfirmasi gugur pada 30 Maret 2026 akibat luka parah setelah serangan militer Israel.
Konfirmasi tewasnya Alireza disampaikan melalui kantor berita Fars yang mengutip pernyataan resmi Garda Revolusi Iran, Senin (30/3/2026).
Informasi ini memperkuat klaim sebelumnya dari Israel dan militer Amerika Serikat terkait tewasnya salah satu tokoh militer paling berpengaruh di Iran tersebut.
Baca Juga: Anggota TNI Tewas di Lebanon Kena Proyektil, Sekjen PBB Tak Jelas, Hanya Keluarkan Kecaman
Menteri Pertahanan Israel Israel Katz sebelumnya mengumumkan bahwa Alireza Tangsiri tewas dalam serangan udara di kota pelabuhan Bandar Abbas, Iran selatan.
Serangan tersebut juga dilaporkan menewaskan sejumlah pejabat senior komando Angkatan Laut IRGC.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) turut mengonfirmasi kematian Tangsiri pada hari yang sama, dikutip dari AFP pada Senin (30/3/2026).
Pernyataan yang dimuat di situs Sepah News milik Garda Revolusi menyebut Tangsiri meninggal dunia akibat luka parah setelah serangan pekan lalu.
Baca Juga: Wah! ASN Mulai Bersepeda Saat Masuk Kantor, Sejumlah Daerah Sudah Terapkan WFH Hemat Energi
Israel menuding Tangsiri sebagai sosok yang bertanggung jawab atas operasi penambangan dan pemblokiran Selat Hormuz.
Selat Hormuz diketahui merupakan jalur vital perdagangan energi global yang selama konflik mengalami blokade de facto oleh Iran.
Blokade tersebut berdampak pada lonjakan harga energi di pasar internasional sejak perang memasuki bulan kedua.
Tangsiri dikenal sebagai veteran perang Iran-Irak periode 1980-1988 yang memiliki pengalaman panjang di militer.
Ia diangkat langsung oleh Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei pada 2018 sebagai Komandan Angkatan Laut IRGC.
Posisi tersebut menempatkannya sebagai figur kunci dalam strategi pertahanan maritim Iran.
Di bawah kepemimpinannya, kekuatan Angkatan Laut Garda Revolusi mengalami peningkatan signifikan.
Tangsiri juga beberapa kali mengeklaim bertanggung jawab atas penyitaan kapal asing di perairan strategis.
Garda Revolusi menyatakan bahwa Tangsiri gugur saat sedang mengatur pertahanan pantai. Pernyataan resmi tersebut juga menegaskan bahwa Iran tidak akan berhenti hingga musuh benar-benar dihancurkan.
Israel dan Amerika Serikat mengeklaim serangan terhadap pejabat tinggi Iran sebagai pukulan besar bagi kekuatan militer Teheran.
Kematian Tangsiri menambah daftar panjang pejabat tinggi Iran yang gugur sejak konflik dengan Israel memanas.
Iran sebelumnya juga mengonfirmasi kematian sejumlah tokoh penting, termasuk Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei pada hari pertama perang, 28 Februari 2026.
Kepala keamanan Iran Ali Larijani tewas pada awal Maret bersama sejumlah tokoh lainnya.
Angkatan Laut Iran mengandalkan strategi asimetris yang berfokus pada kecepatan, jumlah, dan rudal anti-kapal untuk mendominasi Teluk Persia, dengan fokus pada pertahanan pesisir dan serangan cepat terhadap kapal besar.
Kekuatan utamanya mencakup ratusan kapal cepat, sekitar 25-30 kapal selam (termasuk kelas Ghadir/Kilo), fregat kelas Jamaran, dan korvet, serta drone dan rudal balistik jarak jauh.***

