POJOKSATU.ID - Ketegangan di Timur Tengah kembali memasuki fase berbahaya.

Iran kini dikabarkan tengah mempertimbangkan langkah besar yang bisa mengubah peta geopolitik dunia, yakni keluar dari Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir, menurut laporan kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim News Agency.

Rencana ini mencuat di tengah situasi perang yang semakin memanas setelah serangan udara Amerika Serikat dan Israel ke wilayah Iran pada akhir Februari 2026.

Baca Juga: Pengumuman SNBP 2026 Segera Rilis, Cek Link Utama dan Mirror Lengkap Beserta Cara Lihat Hasil

Serangan tersebut dilaporkan menewaskan lebih dari 1.300 orang dan memicu respons keras dari Teheran.

Mengutip laporan Tasnim News Agency, wacana keluar dari NPT saat ini sedang dibahas oleh sejumlah lembaga penting di Iran, termasuk parlemen.

Wakil Teheran, Malek Shariati, bahkan menyebut ada rencana darurat untuk memperkuat hak nuklir negaranya.

Baca Juga: PDIP Siap Turun Tangan Bantu Pemerintah, Dua Tanker Pertamina Didorong Segera Lintasi Selat Hormuz

Rencana tersebut mencakup tiga poin utama. Pertama, kemungkinan keluar dari NPT. Kedua, pencabutan undang-undang terkait implementasi kesepakatan nuklir Iran tahun 2014.

Ketiga, membuka peluang kerja sama baru dengan negara-negara yang dianggap sejalan, seperti anggota BRICS dan Shanghai Cooperation Organization.

Langkah ini dinilai sebagai respons langsung atas tekanan dan serangan militer yang dilakukan AS dan Israel.

Baca Juga: Pemerintah Resmi Pangkas Program MBG Jadi 5 Hari Sekolah, Kecuali Daerah 3T dan Stunting Tinggi

Apalagi, konflik tersebut telah menimbulkan korban besar, termasuk tewasnya pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei.

Di sisi lain, Amerika Serikat selama ini memang menaruh kekhawatiran terhadap program pengayaan uranium Iran yang dinilai berpotensi mengarah pada pengembangan senjata nuklir.

Sebagai balasan, Iran tidak tinggal diam. Serangan balasan diluncurkan menggunakan drone dan rudal ke sejumlah target, termasuk wilayah Israel serta negara-negara yang menjadi basis militer AS seperti Yordania dan Irak.

Dampaknya pun meluas. Selain korban jiwa dan kerusakan infrastruktur, konflik ini juga mengguncang pasar global dan mengganggu jalur penerbangan internasional.

Baca Juga: Ini Tanggapan Terbaru Kemlu dan ESDM Terkait Kapal Pertamina Masih Tertahan di Selat Hormuz

Jika Iran benar-benar keluar dari NPT, banyak pihak khawatir situasi akan semakin tidak terkendali.

Dunia kini menanti langkah berikutnya dari Teheran di tengah bayang-bayang eskalasi konflik yang semakin sulit diprediksi.***