POJOKSATU.id,--Dalam Sidang Darurat Dewan Keamanan PBB, Rusia secara terbuka menuding Amerika Serikat (AS) dan Israel sebagai akar penyebab konflik di Timur Tengah.
Tudingan Rusia ini disampaikan Perwakilan Tetap Rusia untuk PBB, Vassily Nebenzia, dalam Sidang Darurat DK PBB pada Selasa, 31 Maret 2026.
Rusia secara terbuka menuding Amerika Serikat sebagai akar penyebab meningkatnya eskalasi konflik di Lebanon yang berujung pada jatuhnya korban prajurit TNI dalam misi UNIFIL di Lebanon selatan.
Baca Juga: Sosok Perwira Kopassus Kapten Zulmi Aditya Gugur di Usia Muda Diserang Israel, Lulusan Akmil 2015
Mengawali pernyataannya, Nebenzia menyampaikan duka cita mendalam atas gugurnya tiga prajurit TNI saat menjalankan misi perdamaian di Lebanon selatan.
Rusia pun mendesak agar investigasi dilakukan secara menyeluruh guna mengungkap pihak yang bertanggung jawab atas serangan tersebut.
“Kami berharap menerima laporan komprehensif tentang hal ini dari Sekretariat PBB tepat waktu, termasuk informasi tentang mereka yang bertanggung jawab atas serangan keji ini. Rusia mengutuk keras semua serangan terhadap kontingen UNIFIL, siapa pun pelakunya," tegasnya.
Nebenzia menggambarkan situasi di lapangan kian memburuk seiring meningkatnya operasi militer Israel yang berdampak luas terhadap warga sipil dan infrastruktur penting di Lebanon.
Baca Juga: Kapten Zulmi Aditya Gugur di Akhir Masa Tugas di Lebanon, Beberapa Hari Lagi Pulang ke Indonesia
Menurutnya, konfrontasi yang kian memanas di Lebanon tidak lepas dari agresi Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang memperparah ketegangan kawasan.
“Izinkan saya mengingatkan Anda tentang akar penyebab eskalasi konfrontasi Lebanon-Israel saat ini: justru agresi Washington dan Yerusalem Barat terhadap Iran yang menjadi pemicu gangguan yang lebih luas terhadap stabilitas yang rapuh di Timur Tengah,” tegas Nebenzia.
Ia menyayangkan sikap sejumlah anggota DK PBB yang mengabaikan fakta tersebut dan terus menjadikan perlawanan Lebanon sebagai kambing hitam.
"Banyak anggota Dewan Keamanan tetap bungkam tentang hal ini, dan terus-menerus berusaha untuk menyalahkan sepenuhnya perlawanan Lebanon, menggambarkannya sebagai pelaku utama di balik lonjakan kekerasan di sepanjang Garis Biru," tegas Perwakilan Tetap dari Rusia ini.***

