POJOKSATU.id – Ketegangan di Timur Tengah kini mulai berdampak langsung ke ekonomi global.

Tersendatnya jalur Selat Hormuz membuat ribuan kapal tertahan, memicu kekhawatiran lonjakan harga energi hingga kebutuhan pokok di berbagai negara.

Eskalasi konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran sejak akhir Februari 2026 kini memasuki fase yang berdampak luas.

Baca Juga: DPR Mulai Pangkas Jatah BBM Pejabat Eselon I hingga III, Imbas Kebijakan Hemat Energi di Tengah Tekanan Global

Sekitar 1.900 kapal komersial dilaporkan tertahan di kawasan Selat Hormuz, salah satu jalur energi paling vital di dunia.

Kapal-kapal tersebut tidak dapat melanjutkan perjalanan akibat pembatasan akses yang diberlakukan Iran.

Kondisi ini membuat distribusi energi global tersendat. Diperkirakan sekitar 190 juta barel minyak mentah dan produk turunannya kini tertahan di laut.

Baca Juga: Permohonan Gubernur Riau Non Aktif Ditolak, Kasus Abdul Wahid Picu Sorotan Konsistensi KPK

Dampak Langsung, Harga Mulai Tertekan
Jika ditarik ke dampak paling nyata, situasi ini langsung memukul sektor logistik dan energi global.

Biaya pengiriman melonjak tajam. Indeks tanker dunia mengalami kenaikan signifikan, dengan Baltic Dirty Tanker Index naik hingga 49 persen dan Baltic Clean Tanker Index melonjak 78 persen.

Kenaikan ini bukan sekadar angka. Dalam praktiknya, lonjakan biaya logistik hampir pasti akan diteruskan ke harga barang di tingkat konsumen.

Baca Juga: VIRAL! Rumah Dipenuhi Sampah Selama 7 Tahun, Penghuninya Disebut Terlihat Normal dan Bersih

Artinya, bukan hanya industri besar yang terdampak, tetapi juga masyarakat luas melalui kenaikan harga bahan bakar, pangan, hingga kebutuhan sehari-hari.

Akses Dibatasi, Dunia Kehilangan Jalur Vital
Iran melalui pernyataan resmi menegaskan bahwa kapal yang memiliki keterkaitan dengan negara penyerang tidak akan diizinkan melintas.

Meski masih membuka akses terbatas bagi negara lain, aturan baru ini tetap menciptakan hambatan besar dalam arus perdagangan.

Baca Juga: Rekrutmen ASN 2026 Mulai Disiapkan, Ini Sinyal Kuat Dari Pemerintah Soal Pembukaan CPNS

Sebagai catatan, sekitar 30 persen ekspor minyak global via laut melewati Selat Hormuz. Selain itu, jalur ini juga dilalui sebagian perdagangan kontainer dan kargo curah dunia.

Ketika jalur ini terganggu, efeknya langsung terasa secara global.

Minim Alternatif, Risiko Kian Besar
Masalah utama yang dihadapi dunia saat ini adalah keterbatasan jalur alternatif.

Baca Juga: Kenapa SKTP Sudah Terbit Tapi TPG Tidak Cair? Ini Fakta yang Sering Tidak Disadari Guru dan Cara Menghindari Kesalahan Fatal

Sebagian distribusi memang bisa dialihkan melalui jalur lain, namun kapasitasnya sangat terbatas dan tidak mampu menggantikan volume yang biasanya melewati Selat Hormuz.

Di sisi lain, ribuan kapal yang tertahan menciptakan tekanan berlapis. Pasokan tersendat, biaya meningkat, dan ketidakpastian terus membayangi pasar.

Ancaman Krisis Energi Baru
Analis maritim menilai, dampak jangka panjang akan sangat bergantung pada durasi konflik dan kebijakan Iran ke depan.

Baca Juga: Trump Klaim Iran Izinkan 10 Kapal Tanker Melintas Selat Hormuz, Disebut sebagai Hadiah di Tengah Negosiasi Panas

Namun satu hal yang mulai terlihat jelas, dunia kini berada di ambang gangguan energi yang serius.

Jika situasi ini berlarut, bukan hanya sektor energi yang terdampak, tetapi juga industri, transportasi, hingga stabilitas harga kebutuhan pokok.

Tersendatnya Selat Hormuz menjadi pengingat bahwa konflik geopolitik dapat dengan cepat menjalar menjadi krisis ekonomi global.

Bagi banyak negara, termasuk Indonesia, kewaspadaan terhadap dampak lanjutan seperti kenaikan harga dan gangguan pasokan menjadi hal yang tak terelakkan. ***