POJOKSATU.id — Jepang tengah menghadapi wabah influenza terburuk dalam beberapa dekade terakhir, dengan jumlah infeksi mencapai rekor tertinggi sejak pencatatan resmi dimulai pada 1999.

Kementerian Kesehatan Jepang mencatat bahwa rata-rata kasus influenza per klinik pada minggu terakhir Desember 2024 mencapai 64,39 pasien, jumlah tertinggi sejak pencatatan dimulai pada 1999, sebagaimana dilaporkan oleh Japan Times pada 10 Januari 2025.

Dalam seminggu hingga 29 Desember, tercatat 317.812 kasus flu, hampir tiga kali lipat dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Angka rata-rata kasus per klinik meningkat dari 42,66 pada minggu sebelumnya.

Baca Juga: Kronologi Meninggalnya Barbie Hsu Diungkap, Tertular Influenza Lalu Jadi Pneumonia, Shan Cai Dikremasi di Jepang, Selama Hidupnya Juga Menderita Ini

Lima Juta Burung Dimusnahkan

Lonjakan kasus influenza ini dikaitkan dengan meningkatnya mobilitas masyarakat selama musim liburan serta penurunan paparan virus influenza akibat pembatasan Covid-19 dalam beberapa tahun terakhir.

Selain itu, krisis semakin diperparah oleh kelangkaan obat antivirus utama, seperti Tamiflu.

Perusahaan farmasi kini berupaya keras memenuhi lonjakan permintaan, meskipun beberapa pemasok telah mengumumkan penghentian sementara distribusi.

Sejak akhir Desember 2024, lonjakan kasus influenza telah menyebabkan krisis obat flu di berbagai institusi medis dan apotek di Jepang.

Baca Juga: Setelah Hapus USAID, Trump Berencana Bubarkan Kementerian Pendidikan, Kini Dukung Elon Musk Pinmpin Departemen Efisiensi

Menurut laporan Nikkei, beberapa rumah sakit dan apotek melaporkan kelangkaan stok obat flu akibat lonjakan permintaan yang drastis.

Selain berdampak pada kesehatan masyarakat, wabah influenza ini juga mempengaruhi sektor pertanian Jepang.

Kasus flu burung meningkat signifikan, menyebabkan lebih dari lima juta burung harus dimusnahkan sepanjang Januari 2025.

Pihak berwenang terus berupaya menahan penyebaran wabah, terutama di daerah yang menjadi pusat produksi unggas.

Baca Juga: Artis Taiwan Barbie Hsu Meninggal karena Pneumonia, Apa Hubungannya dengan Flu?

Kematian Barbie Hsu di RS Jepang

Wabah influenza ini semakin mendapat sorotan setelah meninggalnya aktris Taiwan, Barbie Hsu, saat berlibur di Jepang.

Aktris berusia 48 tahun yang dikenal berkat perannya dalam Meteor Garden itu dilaporkan mengalami pneumonia akibat influenza dan meninggal karena komplikasi pada 2 Februari 2025.

Setelah kematian Barbie Hsu, muncul fakta bahwa ia sempat mengalami kesulitan mendapatkan perawatan medis.

Seorang pemandu wisata yang mendampingi keluarganya mengungkapkan bahwa Hsu harus mengunjungi tiga rumah sakit sebelum akhirnya mendapatkan diagnosis influenza.

Baca Juga: Ide Relokasi Trump di Gaza Adalah Konspirasi Jahat, MUI Minta Negara OKI Ambil Alih Rekonstruksi

Menurut laporan dari Next Apple dan ET Today, keluarga Hsu tiba di Hakone pada 29 Januari saat ia mulai mengalami gejala batuk dan asma.

Kondisinya memburuk pada 30 dan 31 Januari hingga akhirnya ia memanggil ambulans yang membawanya ke rumah sakit di Hakone.

Sayangnya, dokter di rumah sakit tersebut tidak dapat memastikan penyebab penyakitnya dan memulangkannya ke hotel pada malam yang sama.

Keesokan harinya, Hsu dibawa ke rumah sakit kecil di Tokyo, tetapi fasilitas medis tersebut juga tidak dapat memberikan diagnosis pasti.

Ia kemudian dirujuk ke rumah sakit yang lebih besar, di mana ia akhirnya didiagnosis menderita influenza dan diberikan obat.

Namun, ia tetap tidak diperbolehkan menjalani rawat inap dan harus kembali ke hotel.

Kondisinya semakin memburuk pada malam harinya, hingga keluarganya kembali memanggil ambulans untuk membawanya ke rumah sakit.

Sayangnya, nyawanya tidak tertolong dan ia dinyatakan meninggal pada pukul 07.00 pagi waktu setempat, 2 Februari 2025.

Baca Juga: Profil Barbie Hsu, Sempat Konflik dengan Mantan Suami sebelum Bahagia dengan DJ Koo, Meninggal Dunia saat Menikmati Liburan Tahun Baru Imlek di Jepang

Tagar Influenza Jepang Meluas

Kabar ini memicu kekhawatiran luas mengenai potensi komplikasi influenza, terutama bagi individu dengan kondisi kesehatan yang rentan.

Kasus ini menjadi perbincangan luas di dunia maya, terutama di China.

Netizen berbagi pengalaman mereka terkait infeksi flu di Jepang, termasuk permasalahan akses layanan medis.

Unggahan dengan tagar " influenza Jepang " telah dilihat sebanyak 21,11 juta kali di RedNote hingga 5 Februari 2025.

Sementara itu, tagar " Rumah sakit Jepang menyatakan bahwa mereka kehabisan stok obat-obatan dan mendesak pasien untuk pulang" menjadi topik populer di Sina Weibo dengan lebih dari 13,77 juta tampilan. ***