POJOKSATU.id – Ribuan demonstran memadati area sekitar gedung Majelis Nasional Korea Selatan (Korsel) pada Sabtu (7/12/2024), meluapkan kemarahan setelah pemakzulan Presiden Yoon Suk-yeol gagal.

Pemakzulan yang diharapkan dapat membawa perubahan itu kandas karena tidak mencapai kuorum.

"Lengserkan dia!" teriak seorang demonstran dengan nada marah, seperti dikutip dari Yonhap News Agency.

Protes ini memicu kekhawatiran tentang stabilitas situasi politik Korsel, terlebih setelah keputusan tersebut mengecewakan sebagian besar rakyat yang mendukung pemakzulan.

Protes di Jalanan

Kerumunan yang diperkirakan mencapai ratusan ribu orang memenuhi jalanan di sekitar Majelis Nasional, menyerukan pemakzulan Presiden Yoon.

Baca Juga: Menegangkan! Presiden Korsel Umumkan Darurat Militer, Aktivitas Politik Dihentikan, dan yang Melanggar Langsung Ditangkap

Mereka menyalahkan Partai People Power (PPP) yang berkuasa atas kegagalan ini.

Beberapa pengunjuk rasa bahkan mencoba memanjat tembok kompleks Majelis Nasional dan barikade polisi.

Namun, upaya ini dihentikan oleh demonstran lain yang menyerukan agar aksi tetap berlangsung damai.

Para demonstran juga membentuk barisan panjang yang bergerak menuju sisi kompleks Majelis, mengepungnya sebagai bentuk tekanan terhadap anggota parlemen untuk mendukung pemakzulan.

Sebagian bahkan menuju gerbang samping kompleks, di tengah rumor bahwa anggota parlemen PPP mungkin akan meninggalkan gedung melalui jalur tersebut.

Gagalnya Pemakzulan

Pada hari yang sama, Majelis Nasional mengadakan sesi pleno untuk memberikan suara atas pemakzulan Presiden Yoon.

Pemakzulan ini menjadi isu besar setelah Yoon mengumumkan darurat militer awal minggu ini, yang memicu reaksi keras dari oposisi dan masyarakat.

Baca Juga: Era Presiden Suriah RUNTUH, Warga Damaskus TAKBIR Rayakan KEBEBASAN dari Rezim Baath, Tagar FREE SURIAH Menggema, Presiden Assad Tinggalkan Suriah

Untuk meloloskan pemakzulan, diperlukan dukungan minimal 200 anggota parlemen.

Namun, dari total suara yang dihitung, hanya 192 anggota oposisi dan 3 anggota PPP yang mendukung, sehingga tidak memenuhi syarat kuorum.

Kegagalan ini semakin memperkuat kemarahan publik, yang merasa bahwa pemerintah dan parlemen tidak berpihak pada kehendak rakyat.

Reaksi dan Kekhawatiran

Demonstrasi besar-besaran ini menunjukkan meningkatnya ketegangan di Korsel. Para pengunjuk rasa menganggap langkah Presiden Yoon sebagai ancaman terhadap demokrasi, sementara kegagalan pemakzulan menambah ketidakpercayaan publik terhadap parlemen, terutama Partai People Power.

Baca Juga: Pemerintah Prancis DIJATUHKAN, Mosi Tidak Percaya Dominasi Suara Parlemen, PM Michel Barnier Segera Mundur

Dengan situasi yang semakin memanas, aksi protes ini berpotensi meluas jika tuntutan rakyat tidak segera direspons.

Seruan untuk reformasi politik semakin menggema di tengah tekanan bagi pemerintah untuk menjaga stabilitas. ***