POJOKSATU.id,-- Presiden Argentina, Javier Milei, resmi menetapkan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) yang tengah berperang melawan AS dan Israel sebagai organisasi teroris.

Di tengah perang yang berkecamuk di Timur Tengah, Presiden Argentina ini dinilai malah mengeluarkan kebijakan yang tak produktif.

Keputusan Presiden Argentina ini merupakan bagian dari upaya panjang Argentina dalam mengusut dua serangan teror di sana.

Yakni pengeboman Kedutaan Besar Israel tahun 1992 dan serangan terhadap pusat komunitas Yahudi AMIA pada 1994 yang menjadi tragedi teror paling mematikan di negara itu.

Baca Juga: Dubes Iran Berharap Ulama Indonesia Doakan Bangsanya yang Dizalimi Israel dan Amerika

“Dua serangan teroris paling serius dalam sejarah, yang dilakukan pada tahun 1990-an oleh sayap operasional IRGC di wilayah tersebut, yaitu organisasi Hizbullah," kata pernyataan Kantor Presiden Argentina, seperti dikutip dari The Jerusalem Post, Jumat, 3 April 2026.

Langkah tersebut secara otomatis memicu sanksi finansial serta pembatasan operasional guna mencegah potensi penyalahgunaan sistem keuangan nasional.

Kebijakan ini juga mempertegas posisi Argentina sebagai salah satu sekutu kuat Israel dalam menghadapi ancaman yang dianggap berasal dari Iran dan jaringan proksinya.

Baca Juga: Dampak Perang AS-Iran Kian Terasa, Harga Plastik Naik Gila-gilaan hingga 40 Persen, Pelaku UMKM Menjerit

Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Sa'ar, bahkan memuji langkah tersebut sebagai bentuk kepemimpinan global dalam memerangi terorisme.

“Menempatkan Argentina, di bawah kepemimpinan (Milei), di garis depan dunia bebas dalam memerangi rezim teror Iran dan proksinya,” ujar Sa’ar dalam pernyataannya.

Langkah Argentina ini juga sejalan dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang meminta negara-negara sekutu untuk mengambil sikap serupa terhadap IRGC dan kelompok terkait seperti Hezbollah, di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global.***