POJOKSATU.id – Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global, banyak negara mulai memperkuat sektor pertahanannya.
Anggota NATO telah meningkatkan anggaran militernya dalam beberapa tahun terakhir.
Kini, mereka bersama-sama memenuhi target pengeluaran dua persen dari PDB yang ditetapkan NATO.
Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menyoroti Prancis yang tertinggal dalam belanja pertahanan.
Menurut National Interest (1/3/2025), Prancis mengklaim siap menggandakan kontribusi NATO pada 2030.
Menteri Pertahanan Prancis baru-baru ini mendesak Eropa meningkatkan kapasitas persenjataan.
Sebastien Lecornu menegaskan bahwa peningkatan persenjataan penting untuk "keamanan kolektif" Prancis dan Ukraina.
Prancis berencana menambah 30 jet Rafale, tiga fregat, serta UAV dan sistem peperangan elektronik.
Pada 2024, Prancis telah memesan 42 unit Rafale dalam kesepakatan senilai USD 5 miliar.
Jet ini unggul berkat keandalan, kapasitas muatan besar, dan sistem elektronik canggih.
Rafale buatan Dassault Aviation menjadi favorit ahli militer dan penggemar penerbangan.
Rafale dirancang pada 1970-an untuk memenuhi kebutuhan Angkatan Udara dan Laut Prancis.
Saat itu, Kementerian Penerbangan Prancis mencari penerus yang cocok untuk Dassault Mirage 2000.
Prancis berkolaborasi dengan Italia, Spanyol, Jerman Barat, dan Inggris dalam proyek European Future Combat Aircraft.
Meski Eurofighter Typhoon kuat, Prancis tetap mengembangkan jet tempurnya sendiri.
Rafale lahir sebagai proyek independen yang sepenuhnya dikembangkan di Prancis.
Menurut Simple Flying, Rafale diperkenalkan pada 2001 dengan kelincahan luar biasa.
Dassault Aviation merancang Rafale dengan sayap delta dan canard aktif untuk meningkatkan manuver.
Rafale dilengkapi sensor canggih dan sistem peperangan untuk supremasi udara, pengintaian, interdiksi, dan dukungan darat.
Versi terbaru Rafale dilengkapi Thales TLS 2000, sistem distribusi informasi multifungsi, dan sensor utama lainnya..
Dari segi persenjataan, Rafale dapat membawa berbagai rudal udara-ke-udara seperti Sidewinder, Magic, ASRAAM, dan AMRAAM.
Jet ini juga dapat membawa rudal udara-ke-darat seperti Apache, HARM, ALARM, Maverick, serta rudal antikapal Penguin 3 dan Harpoon.
Ditenagai oleh dua mesin turbofan Snecma M88, Rafale mampu mencapai kecepatan lebih dari Mach 1,8.
Rafale telah digunakan dalam berbagai operasi militer sejak 2000-an, termasuk di Libya, Afghanistan, Mali, Suriah, dan Irak.
Kemampuannya yang luar biasa membuat Rafale menjadi salah satu pesawat tempur yang diminati di pasar global.
Baca Juga: Kota Bogor Darurat Bencana Hidrometeorologi, Ini Langkah Penanggulangan dari Pemprov Jabar
Baru-baru ini, Yunani, Uni Emirat Arab, Mesir, dan Kroasia menandatangani kontrak pembelian Rafale.
Indonesia pun telah memesan 42 unit Rafale yang dijadwalkan mulai dikirim pada 2026.
Dengan permintaan meningkat, Dassault Aviation menghadapi tantangan memenuhi produksi Rafale yang terbukti unggul.***
