POJOKSATU.id, JAKARTA— Politikus Inggris, George Galloway, menuding ada sensor informasi besar-besaran dari pemerintah Israel serta media Barat terkait kondisi di Tel Aviv usai dirudal Iran.

Dalam pernyataannya yang dikutip dari program Moats di kanal You Tube, Minggu (8/3), Israel disebut menyensor jumlah korban dalam konflik tersebut.

Ia mengeklaim Israel mengalami kerugian besar akibat serangan Iran. Namun, informasi mengenai kerusakan tersebut disebut-sebut tidak dipublikasikan secara luas kepada publik internasional.

Baca Juga: Jelang Lebaran 2026, Kepala Daerah Dilarang ke Luar Negeri! Ini Alasannya

“Otoritas Israel menerapkan aturan ketat terhadap penyebaran foto maupun video yang memperlihatkan kerusakan di Tel Aviv. Siapa pun yang menyebarkan dokumentasi tersebut berpotensi menghadapi ancaman hukuman penjara,” kata Galloway dikutip dari kanal You Tube, Minggu (9/3/2026).

Selain itu, ia juga menuding sejumlah media arus utama Barat, seperti CNN, BBC, dan Sky News, tidak menyiarkan secara luas kondisi kerusakan di lapangan.

Politikus Inggris yang diketahui memiliki istri berdarah Indonesia itu bahkan menyatakan kondisi Tel Aviv saat ini disebut-sebut mengalami kerusakan parah hingga menyerupai situasi di Jalur Gaza.

Baca Juga: Indonesia Serukan 3 Negara Dilanda Perang Menahan Diri, Harga Minyak Mentah Dunia Sudah Naik

“Bagaimana saya tahu itu? Karena saya punya teman-teman di Tel Aviv, di Jalan Sheinkin, dekat Lapangan Dizengoff, dan merekalah yang memberi tahu saya langsung bahwa Tel Aviv sekarang terlihat seperti Gaza,” ujar Galloway.

Ia juga mengeklaim kerusakan tersebut terjadi karena sistem pertahanan udara Israel di wilayah Tel Aviv disebut tidak berfungsi optimal sehingga serangan rudal balistik Iran dapat menembus pertahanan.

Menurut klaimnya, sekitar 50 rudal balistik dilaporkan menghantam wilayah Tel Aviv dalam satu malam.

Selain menyoroti kondisi Israel, Galloway juga meragukan data resmi jumlah korban dari pihak Amerika Serikat. Ia menilai angka korban yang diumumkan pemerintah Washington terlalu kecil dibandingkan skala serangan yang dilaporkan terjadi di berbagai fasilitas militer dan diplomatik AS di luar negeri.

Diketahui, George Galloway (lahir 1954) adalah politikus, penyiar, dan penulis kontroversial asal Inggris yang dikenal sebagai pembela Palestina yang vokal dan kritikus keras kebijakan Barat, termasuk anti-NATO.

Ia mendirikan Partai Pekerja Inggris setelah keluar dari Partai Buruh dan pernah memimpin partai Respect.****