POJOKSATU.ID - Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah pernyataan keras dilontarkan Menteri Pertahanan Pakistan, Khawaja Muhammad Asif.
Ia secara terbuka mengecam Israel atas serangan yang terus berlangsung di wilayah Lebanon.
Dalam pernyataannya, Asif menyebut Israel sebagai negara yang membawa kehancuran.
Ia bahkan menggunakan istilah tajam dengan menyebut Israel sebagai jahat dan kutukan bagi umat manusia.
Baca Juga: Di Tengah Tekanan Anggaran, Kukar Pastikan PPPK Aman dan Tetap Dipertahankan
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah upaya diplomasi yang masih berjalan, termasuk kesepakatan gencatan senjata sementara antara Amerika Serikat dan Iran yang dimediasi Pakistan.
Namun, menurut Asif, situasi di lapangan justru bertolak belakang. Ia menilai Israel masih terus melakukan serangan udara, meski proses perdamaian tengah diupayakan.
“Ketika perundingan damai berlangsung, justru terjadi pertumpahan darah di Lebanon,” ujarnya melalui media sosial, Dilansir Press TV dan Anadolu, Jumat (10/4/2026).
Ia juga menyoroti jatuhnya korban sipil dalam konflik tersebut. Menurutnya, serangan yang dilakukan Israel telah menewaskan ratusan warga tak bersalah.
Baca Juga: Kena OTT KPK, Kasus Bupati Tulungagung Diduga Proyek, dari 12 Pejabat Diamankan Ada Kasatpol PP
Data yang beredar menyebutkan, lebih dari 300 orang tewas dan lebih dari seribu lainnya mengalami luka-luka akibat serangan yang meningkat dalam beberapa hari terakhir.
Tidak hanya itu, Asif juga menggambarkan Israel sebagai negara kanker yang menurutnya menjadi sumber ketidakstabilan di kawasan.
Pernyataan tersebut memperlihatkan betapa seriusnya ketegangan yang tengah terjadi.
Pakistan sendiri diketahui berperan sebagai mediator dalam upaya gencatan senjata antara AS dan Iran.
Dalam kesepakatan tersebut, Pakistan menegaskan bahwa wilayah Lebanon juga termasuk dalam cakupan penghentian konflik.
Namun, perbedaan pandangan muncul dari pihak Israel dan Amerika Serikat yang tidak mengakui Lebanon sebagai bagian dari kesepakatan tersebut.
Perbedaan interpretasi ini semakin memperumit situasi dan memicu ketegangan baru di kawasan Timur Tengah.
Di tengah kondisi yang semakin memanas, dunia internasional kini menaruh perhatian besar terhadap perkembangan konflik ini.
Harapan akan terciptanya perdamaian masih ada, namun situasi di lapangan menunjukkan tantangan yang tidak ringan.
Pernyataan keras dari Menhan Pakistan ini pun menjadi sinyal bahwa konflik belum akan mereda dalam waktu dekat.***

