POJOKSATU.id, TEHERAN - Mohsen Rezaei, seorang penasihat senior pemimpin tertinggi Iran Mojtaba Khamenei, melontarkan peringatan terbaru terhadap Amerika Serikat (AS).
Mohsen Rezaei menegaskan bahwa agresi baru terhadap Iran akan menjadi bencana bagi AS. Dimana AS akan ‘ditenggelamkan’ Iran di Teluk Persia atau Laut Oman.
"Sejarah akan mencatat bahwa bangsa Iran menenggelamkan kekuatan adidaya Amerika di Teluk Persia dan Laut Oman," kata Rezaei, seperti dilansir Press TV, Kamis (30/4/2026).
Baca Juga: Sesaat Sebelum Tragedi Maut KRL Bekasi Timur, Gita Mahasiswi BSI Sempat Telepon Ayah Suruh Jemput
"Para personel militer Amerika memperingatkan jika negara tersebut melanjutkan perang, ada kemungkinan kapal-kapal mereka akan ditenggelamkan dan tentara-tentara mereka terbunuh," imbuh mantan Komandan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) ini.
Jika terjadi agresi baru, Rezaei yang merupakan salah anggota Dewan Penentu Kebijakan Iran, menegaskan bahwa AS "seharusnya mengharapkan bahwa kami akan menawan sejumlah besar pasukan mereka".
Peringatan Rezaei ini disampaikan setelah Presiden AS Donald Trump menolak proposal terbaru Iran, yang menawarkan pembukaan kembali Selat Hormuz dengan syarat pencabutan blokade laut AS.
Baca Juga: KSP Dudung akan Ikut Awasi MBG dan Sekolah Rakyat, Kalau Tak Benar akan Saya Babat
Trump menegaskan blokade laut tetap berlaku hingga kesepakatan nuklir tercapai antara Washington dan Teheran.
Proposal Iran itu juga mengusulkan penundaan perundingan nuklir ke tahap negosiasi selanjutnya, setelah Selat Hormuz dibuka dan blokade AS dicabut.
Rezaei menawarkan apa yang disebutnya sebagai "opsi paling hemat biaya" bagi AS, yakni menerima 10 syarat kuat yang diajukan Iran untuk mengakhiri perang.
Persyaratan itu mencakup diakhirinya tindakan agresi terhadap Iran secara permanen, penghentian agresi di semua front, pencabutan sanksi ilegal, dan pemberian kompensasi untuk kehancuran akibat perang.
Terlepas dari itu, meskipun Trump memandang blokade laut sebagai alat tawar-menawar yang efektif, sejumlah sumber mengatakan kepada media AS, Axios, bahwa Komando Pusat AS (CENTCOM) juga mempersiapkan rencana gelombang serangan udara "singkat dan kuat" untuk memecah kebuntuan diplomatik.
Namun, sebut sumber-sumber yang dikutip Axios itu, Trump hingga saat ini belum mengizinkan tindakan militer apa pun terhadap Iran.
Trump sedang menghadapi tekanan politik yang kuat untuk mengakhiri perang melawan Iran, yang tidak populer bahkan di kalangan sebagian besar pendukungnya dan meningkatkan harga BBM bagi konsumen AS, serta membuat khawatir sekutu-sekutu Washington.***

