POJOKSATU.id - Ketegangan di Timur Tengah semakin memuncak setelah seorang pejabat Iran memperingatkan bahwa negaranya akan “membakar” kapal-kapal yang mencoba melewati Selat Hormuz.
Jalur pelayaran strategis tersebut merupakan salah satu titik transit minyak dan gas terpenting di dunia.
Peringatan itu disampaikan Ebrahim Jabbari, penasihat Panglima Tertinggi Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), melalui siaran televisi pemerintah.
Ia menyatakan bahwa Selat Hormuz berada dalam status tertutup dan kapal-kapal yang mencoba melintas akan menghadapi “respons serius”.
Jabbari juga menuduh Amerika Serikat “haus akan minyak” di kawasan tersebut.
Iran, katanya, siap menyerang jalur pipa dan tidak akan mengizinkan ekspor minyak dari wilayah itu.
Selat Hormuz diketahui menjadi jalur vital bagi distribusi energi global.
Sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia melewati perairan tersebut.
Ancaman penutupan selat langsung memicu kekhawatiran pasar dan mendorong harga minyak dunia melonjak.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan bahwa “serangan terberat” terhadap Iran masih akan datang.
Presiden AS Donald Trump bahkan menyebut keputusan melancarkan perang sebagai “kesempatan terakhir dan terbaik” untuk menghentikan rezim Iran.
Ia menegaskan bahwa operasi tempur skala besar masih terus berlangsung.
Ketegangan semakin meningkat setelah Kedutaan Besar AS di Riyadh, Arab Saudi, dihantam dua drone.
Serangan itu menyebabkan kebakaran terbatas dan kerusakan material kecil.
Washington mengisyaratkan akan melakukan serangan balasan segera. Enam anggota militer dilaporkan tewas dan 18 lainnya terluka.
Citra satelit juga menunjukkan kerusakan di kilang minyak Ras Tanura yang dioperasikan Aramco di Arab Saudi.
Fasilitas dengan kapasitas produksi sekitar 550.000 barel per hari itu sempat ditutup sementara setelah terjadi kebakaran kecil akibat serangan drone.
Konflik turut meluas ke Lebanon. Hizbullah, kelompok yang didukung Iran, meluncurkan roket ke wilayah Israel yang menewaskan sembilan warga sipil.
Israel membalas dengan serangan rudal ke Lebanon yang dilaporkan menewaskan 31 orang.
Israel bahkan mengimbau warga di lebih dari 50 desa di Lebanon untuk mengungsi.
Ledakan terdengar di Beirut pada dini hari, memicu kepanikan dan gelombang pengungsian.
Di saat bersamaan, Iran juga menyasar sektor energi Arab Saudi dan Qatar.
Perusahaan energi QatarEnergy dilaporkan menghentikan produksi LNG setelah fasilitasnya diserang.
Situasi ini memperparah gangguan ekonomi regional dan meningkatkan ketidakpastian global.
Serangan rudal Iran juga dilaporkan menghantam Kota Beit Shemesh di Israel, menewaskan sedikitnya sembilan orang.
Peristiwa ini disebut sebagai salah satu serangan paling mematikan sejak konflik terbaru pecah.
Harga saham maskapai penerbangan di Asia Pasifik turut merosot akibat ketidakstabilan kawasan, sementara pasar energi dunia terus bergejolak.
Negara-negara Teluk menuduh Iran melanggar kedaulatan mereka, dan eskalasi militer masih berpotensi berlangsung berpekan-pekan.
Di tengah kobaran api konflik dan ancaman penutupan jalur energi dunia, ketegangan ini bukan hanya soal geopolitik, tetapi juga menyentuh stabilitas ekonomi global dan kehidupan jutaan orang.
Dunia kini menanti, apakah diplomasi masih memiliki ruang, atau justru perang berkepanjangan yang akan menjadi babak berikutnya.***

