POJOKSATU.id, JAKARTA— Panglima militer Iran Jenderal Amir Hatami mengatakan Iran tidak takut dengan ancaman Amerika Serikat (AS).

Jenderal Amir memperingatkan bahwa Iran tidak akan tinggal diam dan membiarkan dirinya diancam oleh kekuatan luar.

Hal ini disampaikan Amir pada hari Rabu (7/1/2026) setelah AS dan Israel mendukung aksi-aksi protes anti-pemerintah yang tengah terjadi di Iran.

"Republik Islam Iran menganggap peningkatan retorika permusuhan terhadap bangsa Iran sebagai ancaman dan tidak akan mentolerir kelanjutannya tanpa memberikan respons," kata Jenderal Amir Hatami, menurut kantor berita Iran, Fars, dilansir AFP, Rabu (7/1/2026).

Baca Juga: Wajib Tahu! Ini Ketentuan Promo Tambah Daya PLN Mobile 2026, Diskon Bisa 50 Persen

Dalam beberapa hari terakhir, Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah mengancam akan campur tangan di Iran jika para demonstran terbunuh.

Dilaporkan bahwa jumlah korban tewas akibat kekerasan yang menyertai gelombang protes di Iran pada Selasa (6/1) waktu setempat meningkat menjadi sedikitnya 35 orang.

Data tersebut disampaikan oleh jejaring pegiat HAM Human Rights Activists News Agency (HRANA) di Amerika Serikat.

Lembaga yang didirikan pelarian Iran itu juga melaporkan lebih dari 1.200 orang telah ditahan sejak demonstrasi berlangsung lebih dari sepekan.

Baca Juga: Merokok Saat Mengemudi Digugat ke MK, Pemohon Minta Sanksi Pidana hingga Cabut SIM

Gelombang protes ini bermula dari kemarahan publik terhadap tingginya inflasi, melemahnya nilai tukar mata uang rial, serta memburuknya kondisi ekonomi yang meluapkan daya beli masyarakat.

Dalam perkembangannya, aksi unjuk rasa yang awalnya bersifat lokal kemudian meluas dan menyebar ke berbagai kota besar, termasuk ibu kota Teheran, sejumlah wilayah di Iran barat, serta provinsi Baluchistan Selatan.

Aksi ini pada awalnya digerakkan oleh para pedagang di kawasan bazar, sektor yang selama ini dikenal sebagai salah satu penopang ekonomi tradisional Iran.

Protes bermula ketika pemerintah memutuskan penutupan lembaga publik demi menghemat bahan bakar.

Protes pedagang kemudian diikuti oleh mahasiswa, pekerja, dan kelompok masyarakat lainnya.***