POJOKSATU.id, OTORITAS Palestina menanggapi keras pidato Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu dalam Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Menurut Palestina, pidato tersebut tidak lebih dari rangkaian kebohongan dan manipulasi.
Direktur Departemen Urusan Eropa Kementerian Luar Negeri Palestina, Adel Atieh, menyebut pidato Netanyahu mencerminkan posisi lemah.
Baca Juga: Foton Gandeng Kalista Perkuat Ekosistem Kendaraan Listrik di Indonesia
"Itu merupakan pidato orang yang kalah, pemimpin yang putus asa yang sekali lagi berupaya menggalang kekuatan negara Barat yang semakin menjauhkan diri dari negara yang melakukan genosida, dengan menggunakan rasa takut sebagai satu-satunya argumennya," ujar Atieh.
Atieh menilai Netanyahu tidak menawarkan gagasan baru, tetapi hanya memperlihatkan keterasingan yang semakin dalam.
"Pidato ini tidak menunjukkan visi maupun perspektif, pidato tersebut hanya mencerminkan isolasi yang semakin meningkat, terburu-buru untuk maju, dan kecemasan dari kekuatan yang menyadari dia berada di pihak yang salah dalam sejarah," katanya.
Baca Juga: Bogor Siapkan Tiga Lokasi untuk Sekolah Negeri Baru, Target Rampung 2026
Pidato kontroversial Netanyahu hadir beberapa hari setelah Inggris, Prancis, dan sejumlah negara Barat lainnya resmi mengakui Palestina sebagai negara.
Dalam forum itu, Netanyahu menyerang keputusan negara-negara Barat sekaligus menegaskan Israel tetap melanjutkan serangan ke Jalur Gaza.
"Israel tidak akan membiarkan Anda memaksakan negara teroris kepada kami," tegas Netanyahu di markas besar PBB, New York.
Ia juga menuding negara-negara Barat bersikap lemah dalam menghadapi tekanan publik.
"Kami tidak akan melakukan bunuh diri nasional karena Anda tidak memiliki nyali untuk menghadapi media yang bermusuhan dan massa antisemitisme yang menuntut darah Israel," ujarnya.
Netanyahu yang konsisten menolak keberadaan negara Palestina, bahkan melabeli Otoritas Palestina sebagai institusi yang gagal.
"Otoritas Palestina korup sampai ke akar-akarnya. Mereka tidak menggelar pemilu selama 20 tahun. Mereka menggunakan buku teks yang sama dengan Hamas," ujarnya.
"Buku teks yang persis sama. Mereka mengajari anak-anak mereka untuk membenci orang Yahudi dan menghancurkan negara Yahudi," klaimnya.
Semoga informasi ini bermanfaat, ya.
Bantu tulis tanggapan di kolom komentar dan share info ini ya.
-
Akses artikel bisa dibaca melalui apps kami:
Benjamin Netanyahu tetap menolak Palestina merdeka, dan merasa Israel tidak bersalah atas genosida yang terjadi nyata hingga saat ini. ***

