POJOKSATU.id,-- Pakistan berharap tidak terjadi lagi peperangan antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) usai perundingan di Islamabad buntu atau tidak tercapai kesepakatan.
Menteri Luar Negeri Pakistan, Ishaq Dar meminta AS dan Iran harus mematuhi perjanjian gencatan senjata yang sudah disepakati.
Pernyataan ini muncul setelah pembicaraan maraton antara kedua pihak selama 21 jam untuk mengakhiri perang berakhir tanpa kesepakatan.
Baca Juga: Iran Anggap Tuntutan AS Berlebihan, Islamabad Talk Berakhir Tanpa Kesepakatan Apapun
"Sangat penting bagi semua pihak untuk terus menjunjung tinggi komitmen mereka terhadap gencatan senjata," kata Ishaq pada Minggu (12/4/2026) dikutip dari AFP.
"Pakistan telah dan akan terus memainkan perannya untuk memfasilitasi keterlibatan dan dialog antara Iran dan AS di masa mendatang," sambungnya.
Pakistan merupakan mediator dalam perundingan antara Iran dan Amerika Serikat ini.
Baca Juga: Duh, BGN Anggarkan Rp 113,9 Miliar untuk Event Organizer, Bayar 16 Paket Pekerjaan Strategis
Pembicaraan 21 Jam Buntu
Berita sebelumnya, pembicaraan selama 21 jam antara utusan Iran dan Amerika Serikat (AS) di Islamab Pakistan belum membuahkan hasil apapun atau buntu. Belum ada kata sepakat kedua belah pihak.
Meski buntu, namun Wakil Presiden (Wapres) AS, JD Vance mengatakan ada kabar baik yang bisa disampaikan dimana sejumlah diskusi substantif dengan Iran sudah dilakukan tim AS.
“Kami telah melakukannya selama 21 jam, dan kami telah melakukan sejumlah diskusi substantif dengan Iran. Itu kabar baiknya,” kata Vance dalam konferensi pers di Islamabad, Minggu (12/4) waktu setempat.
Dikatakan Vance, Iran belum bersedia menerima persyaratan AS.
“Kabar buruknya adalah kami belum mencapai kesepakatan,” katanya dilansir dari Tasnim News Agency.
“Dan saya pikir itu kabar buruk bagi Iran jauh lebih besar daripada kabar buruk bagi Amerika Serikat.
Menurutnya, mereka akan kembali ke AS tanpa membawa kesepakatan apapun.
“Jadi kita kembali ke Amerika Serikat tanpa mencapai kesepakatan.”
Wakil presiden AS mengatakan kedua pihak membahas beberapa masalah.
“Kami hanya tidak dapat mencapai situasi di mana Iran bersedia menerima persyaratan kami. Saya pikir kami cukup fleksibel; kami cukup akomodatif,” katanya.
“Presiden memberi tahu kami, ‘Anda perlu datang ke sini dengan itikad baik dan melakukan upaya terbaik Anda untuk mendapatkan kesepakatan’. Kami melakukan itu, dan sayangnya, kami tidak dapat membuat kemajuan apa pun,” katanya.***

