POJOKSATU.id - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu akhirnya buka suara terkait kesepakatan damai yang diumumkan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Dalam pidato yang disiarkan melalui televisi pada Senin, 15 Juni 2026, Netanyahu menegaskan bahwa fokus utama Israel tetap tidak berubah, yakni mencegah Iran memiliki senjata nuklir.

Pernyataan tersebut menjadi respons pertama Netanyahu setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan tercapainya kesepakatan damai dengan Iran yang disebut mencakup penghentian konflik di sejumlah kawasan, termasuk Lebanon yang selama ini menjadi salah satu titik panas di Timur Tengah.

Baca Juga: Apa Itu LPS? Kenali Fungsi, Batas Penjaminan, dan Manfaatnya bagi Nasabah Bank

Menurut Netanyahu, terlepas dari ada atau tidaknya kesepakatan politik yang dicapai oleh berbagai pihak, Israel akan tetap berpegang pada kepentingan keamanan nasionalnya.

"Yang terpenting adalah kita telah menyelamatkan negara Israel dari ancaman pemusnahan oleh nuklir," kata Netanyahu.

Dalam pidatonya, Netanyahu juga membela keputusan pemerintahannya yang sebelumnya meluncurkan kampanye militer terhadap Iran.

Langkah tersebut menuai kritik dari berbagai pihak karena sempat memicu lonjakan harga minyak dunia dan meningkatkan ketegangan geopolitik global.

Baca Juga: Kalender Pendidikan Madrasah 2026-2027 Resmi Terbit, Catat Jadwal Masuk Sekolah, Libur Semester, hingga Ujian Madrasah

Namun Netanyahu menilai operasi militer tersebut justru berhasil mencegah ancaman yang lebih besar terhadap keberlangsungan negara Israel.

Kesepakatan damai yang diumumkan Donald Trump pada Minggu (14/6) disebut mencakup penghentian pertempuran di berbagai front konflik.

Meski demikian, kesepakatan tersebut belum resmi berlaku karena nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) baru dijadwalkan ditandatangani di Swiss pada Jumat, 19 Juni 2026.

Di sisi lain, kesepakatan tersebut ternyata memunculkan reaksi keras dari sejumlah pejabat Israel.

Baca Juga: Warga Karawang Kompak Minta Program MBG Dilanjutkan, Bupati Aep: Jika Ada Oknum Nakal Langsung Laporkan!

Beberapa menteri menyampaikan penolakan karena menilai Israel tidak dilibatkan secara langsung dalam proses perundingan.

Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben Gvir menjadi salah satu tokoh yang secara terbuka menyuarakan keberatan.

Ia menilai negaranya tidak memiliki kewajiban untuk mematuhi kesepakatan yang tidak melibatkan Israel dalam proses pembentukannya.

Tak hanya menyinggung isu Iran, Netanyahu juga menegaskan bahwa pasukan Israel akan tetap mempertahankan keberadaannya di sejumlah wilayah yang dianggap strategis bagi keamanan negara tersebut.

Baca Juga: Irjen Purn Sony Sonjaya Tak Jujur Soal Korupsi BGN, Elza Syarief Pilih Mundur dari Pengacaranya

Ia menyebut pasukan Israel akan terus berada di Lebanon, Jalur Gaza, dan Suriah untuk memastikan tidak ada kelompok yang dianggap mengancam keamanan nasional Israel.

"Israel tidak akan membiarkan organisasi teroris menancapkan diri di perbatasan kami, menggali terowongan teror ke wilayah kami, atau mempersiapkan pembantaian di dekat warga negara kami," ujarnya.

Pernyataan itu menunjukkan bahwa meskipun terdapat upaya diplomatik untuk meredakan konflik kawasan, pemerintah Israel masih memandang situasi keamanan regional sebagai ancaman yang perlu diantisipasi secara serius.

Baca Juga: Apa Itu Uang Giral? Kenali Pengertian, Jenis, Perbedaan dengan Uang Kartal, dan Manfaatnya

Perkembangan kesepakatan damai AS-Iran kini menjadi sorotan dunia internasional karena dinilai berpotensi mengubah dinamika politik dan keamanan di Timur Tengah.

Banyak pihak menunggu hasil penandatanganan resmi yang dijadwalkan berlangsung di Swiss dalam beberapa hari ke depan.

Di tengah harapan lahirnya perdamaian baru di Timur Tengah, ketegangan dan rasa saling curiga ternyata masih membayangi berbagai pihak.

Dunia kini menanti apakah jalur diplomasi benar-benar mampu meredakan konflik yang telah berlangsung selama bertahun-tahun, atau justru menjadi awal dari babak baru yang penuh tantangan bagi kawasan tersebut.***