POJOKSATU.id, TEHERAN-- Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei mengatakan Amerika Serikat (AS) akan dipaksa meninggalkan Timur Tengah setelah mengalami pukulan menyakitkan.

Pernyataan tersebut disampaikan Mojtaba pada Senin (28/9/2026) dalam pernyataan tertulis yang disiarkan televisi pemerintah Iran.

Mojtaba, yang tidak terlihat di hadapan publik sejak perang di Timur Tengah dimulai pada akhir Februari, menyampaikan pernyataan itu ketika upaya untuk menghidupkan kembali perundingan guna mengakhiri perang tengah dilakukan.

"Hari ini, setelah mengalami pukulan menyakitkan di tangan para pejuang pemberani dan para penjaga Selat Hormuz, mereka (para musuh) tidak berani melampaui Laut Arab," kata Mojtaba dalam pernyataan tersebut, seperti dikutip AFP, Selasa (29/9).

Baca Juga: Trump Tolak Proposal Iran, Teheran Tetap Buka Jalur Diplomasi untuk Akhiri Perang

"Setiap kali mereka berani mengambil risiko ini, mereka hanya membawa kerugian bagi diri mereka sendiri. Tidak akan lama sebelum Laut Arab juga akan terbebas dari kehadiran mereka," lanjutnya.

Arab merupakan jalur maritim penting yang membentang dari Semenanjung Arab menuju India dan terhubung dengan pesisir Iran serta Selat Hormuz.

Iran dan AS bersaing memperebutkan kendali atas Selat Hormuz sejak perang dimulai dengan serangan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari.

Sebelum perang, jalur pelayaran strategis tersebut membawa sekitar seperlima minyak dan gas dunia.

Baca Juga: Iran Tegaskan Program Nuklir Tak Bisa Ditawar, Meski Selat Hormuz Dibuka

Setelah perang dimulai, Teheran memberlakukan blokade di Selat Hormuz. Washington kemudian merespons dengan memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Di tengah situasi tersebut,

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan di New York pada Senin bahwa Iran telah menyampaikan kepada AS dan komunitas internasional mengenai persyaratan yang ditetapkan Mojtaba untuk membuka kembali Selat Hormuz. Namun, Araghchi tidak merinci persyaratan tersebut.
Ia mengatakan Iran telah membahas sejumlah gagasan dengan mediator Qatar yang nantinya akan disampaikan kepada AS. Iran juga menunggu tanggapan akhir Washington melalui Doha.
"Jika Amerika mengklaim bahwa mereka sedang mencari kesepakatan atau solusi damai, kami telah menyampaikan solusi tersebut," kata Araghchi.***