POJOKSATU.ID - Iran resmi memiliki Pemimpin Tertinggi baru setelah Majelis Ahli menunjuk Ayatollah Mojtaba Khamenei untuk menggantikan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei. Keputusan tersebut diumumkan pada Senin (9/3/2026) waktu Teheran.
Penunjukan Mojtaba Khamenei diumumkan melalui pernyataan resmi Majelis Ahli, lembaga yang berwenang memilih pemimpin tertinggi dalam sistem Republik Islam Iran.
Dalam pernyataan tersebut disebutkan bahwa keputusan diambil secara tegas setelah proses pemungutan suara oleh para ulama anggota majelis.
“Dengan suara yang menentukan, Majelis Ahli menunjuk Ayatollah Seyyed Mojtaba Hosseini Khamenei sebagai Pemimpin ketiga sistem suci Republik Islam Iran,” demikian bunyi pernyataan resmi majelis yang dirilis sesaat setelah tengah malam waktu Teheran.
Keputusan itu diambil di tengah situasi geopolitik yang memanas. Iran saat ini disebut menghadapi tekanan dan agresi dari Amerika Serikat dan Israel.
Meski demikian, Majelis Ahli menegaskan bahwa negara tidak ragu dalam menentukan pemimpin baru untuk melanjutkan kepemimpinan Republik Islam Iran.
Penunjukan Mojtaba dilakukan setelah wafatnya Ali Khamenei yang dilaporkan tewas dalam serangan yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel.
Peristiwa tersebut terjadi pada hari pertama eskalasi konflik yang memicu ketegangan besar di kawasan Timur Tengah.
Sebelum proses pemilihan dilakukan, Mojtaba Khamenei memang telah lama disebut sebagai kandidat terkuat untuk menggantikan ayahnya.
Ia dinilai memiliki pengaruh besar dalam lingkaran kekuasaan Iran meskipun tidak pernah secara langsung memegang jabatan publik melalui pemilihan umum.
Selama bertahun-tahun, Mojtaba dikenal sebagai figur penting di balik layar pemerintahan Iran.
Ia juga memiliki hubungan yang erat dengan Korps Garda Revolusi Islam atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), salah satu institusi militer paling berpengaruh di negara tersebut.
Mojtaba Khamenei saat ini berusia 56 tahun dan merupakan putra kedua dari Ali Khamenei.
Meski memiliki pengaruh kuat di lingkaran elit politik Iran, ia tidak pernah secara terbuka membahas kemungkinan suksesi kepemimpinan.
Isu suksesi ini bahkan kerap dianggap sensitif di Iran. Sebagian pihak menilai bahwa naiknya Mojtaba ke posisi pemimpin tertinggi dapat memunculkan kesan terbentuknya dinasti politik, sesuatu yang mengingatkan pada masa monarki Pahlavi sebelum Revolusi Islam 1979.
Terlepas dari kontroversi tersebut, Majelis Ahli akhirnya menetapkan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi ketiga Republik Islam Iran yang akan memimpin negara tersebut di tengah dinamika politik dan keamanan kawasan yang terus berkembang.***

