POJOKSATU.ID - Dunia internasional dikejutkan oleh keputusan mengejutkan Mohammad Safa yang memilih mundur dari posisinya di Perserikatan Bangsa-Bangsa setelah hampir 12 tahun berkarier dalam berbagai peran strategis.
Pengunduran diri tersebut bukan tanpa alasan. Safa secara terbuka mengungkapkan kekecewaannya terhadap dinamika internal PBB yang dinilainya tidak lagi sepenuhnya berpihak pada kepentingan global, melainkan dipengaruhi oleh kekuatan lobi tertentu.
Dalam pernyataannya, Safa menyebut dirinya tidak lagi mampu bertahan secara moral melihat perkembangan yang terjadi di tubuh organisasi dunia tersebut.
Baca Juga: Update Kasus Mutilasi Pegawai Ayam Goreng Al Fazza oleh Duo Rekan, Diduga Dipicu Salah Paham
Ia bahkan mengungkap kekhawatiran serius terkait potensi penggunaan senjata nuklir yang disebut-sebut tengah dipersiapkan.
“Saya tidak bisa dengan hati nurani tetap berada di dalam atau hanya menyaksikan situasi ketika ada kemungkinan penggunaan senjata nuklir,” ungkapnya dalam pernyataan yang langsung.
Pernyataan tersebut sontak memicu kekhawatiran luas. Safa menilai kondisi global saat ini jauh lebih genting dibandingkan yang selama ini diketahui masyarakat.
Baca Juga: 500 ASN Sulsel Jalani Latihan Militer, Ini Tujuan Besarnya untuk Negara
Ia secara khusus menyinggung kota Teheran yang dihuni jutaan penduduk, sebagai simbol betapa besar dampak kemanusiaan jika konflik berskala besar benar-benar terjadi.
Menurutnya, di balik angka populasi tersebut terdapat kehidupan nyata—keluarga, anak-anak, hingga masyarakat biasa yang memiliki harapan dan masa depan yang bisa terancam dalam sekejap.
Tak hanya itu, Safa juga menyampaikan kritik keras terhadap pihak-pihak yang dinilai mendorong eskalasi konflik.
Ia menilai dorongan menuju perang sebagai sesuatu yang tidak masuk akal dan berbahaya bagi kemanusiaan.
Keputusan mundur yang diambilnya disebut sebagai langkah berat, mengingat karier diplomatiknya telah dibangun selama lebih dari satu dekade.
Namun, ia menganggap langkah tersebut sebagai bentuk tanggung jawab moral untuk membuka informasi kepada publik.
Safa juga mengajak masyarakat dunia untuk lebih peduli dan aktif menyuarakan penolakan terhadap potensi konflik global.
Baca Juga: Fantastis! Jepang Gelontorkan Dana Jumbo Rp380 Triliun, Indonesia Disebut Makin Dilirik Dunia
Ia menilai kekuatan rakyat menjadi faktor penting dalam mencegah skenario terburuk terjadi.
Pesan tersebut kini menyebar luas dan menjadi perhatian global, sekaligus memicu diskusi baru mengenai arah kebijakan internasional di tengah meningkatnya tensi geopolitik.***

