POJOKSATU.id, JAKARTA- Menteri Intelijen Iran, Esmail Khatib, memberikan komentar yang menyudutkan Amerika Serikat terkait tewasnya eks Perdana Menteri Palestina Ismail Haniyeh di Teheran Rabu lalu (31/7).
Menteri Intelijen Iran menyebut Amerika Serikat memberi lampu hijau atau persetujuan untuk pembunuhan Ismail Haniyeh di Teheran.
“Pembunuhan syahid Ismail Haniyeh yang dilakukan oleh penjajah Zionis dengan lampu hijau dari Amerika Serikat, sekali lagi menunjukkan kekejaman rezim Zionis,” ungkap Esmail Khatib seperti dikutip dari kantor berita milik Iran, IRNA, Sabtu (3/8).
Pernyataan Esmail Khatib ini disampaikan pada Jumat (2/8) waktu setempat dalam sebuah pesan belasungkawa untuk mendiang Ismail Haniyeh.
Haniyeh tewas di ibu kota Iran, Teheran, Rabu, tempat ia menginap untuk menghadiri pelantikan presiden baru negara tersebut.
Dalam pernyataannya, Esmail Khatib mengutuk pembunuhan Haniyeh dan menyebutnya sebagai kerugian besar bagi dunia Islam.
Teheran dan Hamas sama-sama menuduh Israel sebagai pelaku pembunuhan tersebut yang tidak dikonfirmasi maupun dibantah Israel.
Sumber menyebutkan Haniyeh dibunuh dengan bom yang diledakkan dari jarak jauh yang diselundupkan ke wisma tamu di kompleks yang dijaga ketat oleh Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) dua bulan sebelum kejadian.
Bom tersebut dilaporkan meledak di kamar Haniyeh, menewaskan pemimpin Hamas dan salah satu pengawalnya, dan meruntuhkan sebagian dinding luar gedung.
Sementara itu, Amerika Serikat (AS) memutuskan untuk segera mengirimkan kapal perang dan jet tempur tambahan ke wilayah Timteng usai tewasnya Ismail Haniyeh.
"Amerika Serikat akan memperkuat kehadiran militernya di Timur Tengah dengan mengerahkan kapal perang dan jet tempur tambahan untuk melindungi personel AS dan mempertahankan Israel di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan tersebut,” kata Pentagon pada hari Jumat dilansir AFP, Sabtu (3/8/2024).
Kebijakan itu diambil setelah Iran dan sekutu regionalnya bersumpah untuk membalas dendam usai tewasnya eks Perdana Menteri Ismail Haniyeh di Teheran dan seorang pimpinan Hizbullah di Beirut. ***

