POJOKSATU.id, JAKARTA—Pengakuan mengejutkan disampaikan Presiden AS Donald Trump terkait penangkapan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro.

Menurut Trump, pihaknya sempat mempertimbangkan kemungkinan membunuh Presiden Venezuela Nicolas Maduro saat operasi penangkapannya.

“Itu bisa saja terjadi,” kata Trump kepada wartawan, Sabtu (3/1) waktu setempat menjawab pertanyaan apakah opsi mematikan dipertimbangkan dalam operasi tersebut.

Trump menambahkan bahwa Maduro berupaya melarikan diri ke tempat yang dianggap aman selama operasi AS berlangsung, namun gagal melakukannya.

Baca Juga: BNPB Ungkap 1.177 Meninggal, 148 Orang Masih Hilang, Pengungsi Bencana Sumatera 242.174 Jiwa

Dalam pernyataan terpisah yang dikutip media, Caine mengatakan bahwa Maduro dan istrinya, Cilia Flores, yang menurut AS telah didakwa, akhirnya menyerah dan ditahan oleh Departemen Kehakiman Amerika Serikat dengan dukungan militer AS.

Operasi itu, kata Caine, dijalankan dengan profesionalisme dan presisi tanpa menimbulkan korban jiwa di pihak Amerika Serikat.

Sebelumnya, Sekjen PBB Antonio Guterres menganggap militer Amerika Serikat (AS) tak menghormati piagam PBB dan hukum internasional ketika menculik Presiden Venezuela Nicolas Maduro.

Baca Juga: Mendikdasmen Dijadwalkan Hadir di Aceh Tamiang, Jadi Pembina Upacara di Sekolah Terdampak Bencana

Juru Bicara Antonio Guterres, Stephane Dujarric, pada Sabtu (3/1) memandang tindakan militer Amerika Serikat terhadap Venezuela hal yang mengkhawatirkan yang dapat menciptakan "preseden berbahaya".

"Terlepas dari situasi di Venezuela, sederet perkembangan ini merupakan preseden yang berbahaya. Sekretaris Jenderal terus menekankan pentingnya penghormatan penuh - oleh semua pihak - terhadap hukum internasional, termasuk Piagam PBB," kata Dujarric melalui pernyataannya dilansir dari Antara Minggu (4/1).***