POJOKSATU.id, SOSOK Mazen Al-Hamada menarik perhatian publik di tengah peristiwa tumbangnya rezim Bashar Al-Assad di Suriah pada 7 Desembser 2024 yang berkuasa sejak 1971.

Mazen Al-Hamada ditemukan tewas dengan kondisi mengenaskan di penjara Saydnaya yang disebut sebagai sel tahanan paling mengerikan di Damaskus, Suriah.

Mazen Al-Hamada lahir pada 3 Juli tahun 1977. Dia dikenal sebagai aktivitis yang memperjuangkan bebasnya rakyat dari rezim Bashar Al-Assad.

Dia turun ke jalan bersama rekan-rekan sesama aktivis dalam demontrasi revolusi besar-besar terhadap rezim pemerintahan pada tahun 2011.

Baca Juga: Soal Persekongkolan Tender Penyedia Jasa Pengangkutan Kereta, dengan Tegas KCIC Bilang Gini

Mazen mendokumentasikan pergerakan demo antipemerintah itu hingga viral dan ditangkap. Dia mengalami siksaan di dalam penjara dengan sangat brutal selama setahun setengah.

Dia sempat dibebaskan lalu diasingkan dengan mencari suaka ke Belanda. Saat itu, dengan kondisi trauma mendalam, dia melakukan wawancara dan menceritakan apa yang dialaminya saat ditangkap dan disiksa.

"Rezim pemerintahan Suriah telah menghancurkan masa kecilku, masa remajaku, tidak ada yang tidak mereka hancurkan. Kami manusia yang punya values, kami bukan orang seperti yang Al-Assad gambarkan," ujarnya dalam video wawancaranya yang kembali viral.

"Kami berpendidikan, kami menempuh pendidikan di universitas. Dia membunuh kami semua, dia tidak meninggalkan apapun buat kami, kami mencoba menjelaskan ke publik, bahwa kami manusia, manusia biasa, tidak kurang tidak lebih," sambungnya.

Baca Juga: Pergoki Istri Main Gila dengan Laki-laki Lain, Suami Dianiaya dengan Cara Diseret di Mobil, Polisi : Terlapor Sudah Dipanggil, Tapi Mangkir

Kemudian, dia mengungkapkan saat ditangkap tak lama setelah demo antipemerintah. Dia dipaksa mengakui tuduhan yang tidak dilakukannya.

Seorang petugas kepolisian menangkapnya dan menyebutnya membawa senjata. Padahal, dia hanya memegang kamera.

"Saat menginterogasi, dia menutup mataku dan mengikat tanganku, membawaku ke ruangan dan membuatku berlutut. Lalu, dia bertanya apa yang telah aku lakukan, aku bilang aku ikut banyak demonstrasi, membuat video, broadcasting," ujarnya.

Pengakuan Mazen tidak diterima. "Dia bilang aku harus mengakui sesuatu, aku bilang aku tidak melakukan apapun, lalu aku dipaksa mengaku memiliki senjata. Aku bilang hanya punya kamera dan tidak membawa senjata," ungkapnya.

Petugas itu bilang tidak butuh pengakuan Mazen, dan membawanya ke ruangan lain. Kemudian, memulai penyiksaan.

Baca Juga: Perusuh Bocor

"Mereka membawaku, mereka mmbaringkanku di lantai, mematahkan tulangku, mereka angkat lalu menghantam tubuhku ke Bawah. Aku merasakan tulang rusukku patah, mereka memukul perut, wajah, memukul dengan tongkat," kenangnya dengan mata yang menahan tangis.

Dia tetap dipaksa mengaku, namun Mazen tetap pada pendiriannya meski diancam bunuh.

"Aku bilang aku tidak punya apa-apa, kemudian dia menggantungku dengan tangan ke atas, ikatan sangat kuat, sampai seakan mematahkan pergelanganku," sebutnya.

Penyiksaan makin menggila saat Mazen menjeri kesakitan. Petugas mengambil sandal dan menyumpal mulutnya.

"Setelah dia menggantungku, dia membawaku ke ruangan interogasi lagi," lanjutnya.

Baca Juga: Begini Respon Erick Thohir Terkait Keinginan STY agar Ivar Jenner dan Justin Hubner Bela Timnas Indonesia di Piala AFF 2024

Tidak berhenti di situ, petugas membawa penjepit bergagang lalu menelanjangi Mazen.

Dan meletakkan pencapit itu di alat vital Mazen. "Makin mengetat, dan pria di belakang menusuk anusku, tidak bisa dibayangkan manusia apa yang mereka lalukan, banyak orang meninggal karena siksaan itu," tuturnya dengan suara terbatas.

Airmata Mazen jatuh, tak langsung bicara, dia menghela napas, saat ditanya apa yang diharapkannya terhadap mereka yang menyiksanya.

"Allah akan memberikan perhitungan, aku tidak akan berhenti sampai mereka masuk pengadilan, dan mendapatkan keadilan. Keadilan untukku dan teman-temanku yang mereka bunuh. Walau aku mempertaruhkan nyawaku untuk menuntut mereka dan membawa keadilan bagaimanapun caranya," ungkapnya saat itu.

Namun, pada tahun 2020, Mazen diketahui kembali ke Suriah. Beberapa kabar menyebutkan, dia ancam harus pulang, kalau tidak keluarganya dalam keadaan tidak aman.

Baca Juga: Sedih MA Tolak PK Tujuh Terpidana Kasus Vina Cirebon, Dedi Mulaydi : Semoga Duka Ini Tidak Membuat Kita Putus Asa Memperjuangan Kebenaran

Dan, sejak balik ke Suriah itu, Mazen tidak pernah diketahui lagi keberadaannya.

Dia diduga ditangkap lagi oleh intelijen Suriah di bandara sekembalinya ke Suriah. Hingga, mayatnya ditemukan di Penjara Sednaya pada 8 Desember 2024 saat jatuhnya rezim Assad.

Mazen diduga tidak meninggal pada saat ditemukan, karena dia dikemukan disimpan di freezer dengan kondisi banyak luka, dan kedua matanya diduga ditusuk.

Pemakaman Mazen telah dilakukan pada 12 Desember 2024 dihadiri oleh ratusan warga Suriah.

Warga Suriah menyebutnya simbol perlawanan terhadap rezim Al-Assad. Namun, mirisnya, dia tidak menyaksikan hasil dari perjuangannya dan para aktivis lainnya.

Dikutip dari Al Jazeera, mengutip kesaksian para tahanan dan petugas penjara yang dibebaskan, Amnesty International melaporkan bahwa ribuan warga Suriah sering terbunuh dalam eksekusi massal.

Para tahanan terus menerus disiksa, dipukuli dan diperkosa. Narapidana sering kali meninggal karena cedera, penyakit, atau kelaparan. Beberapa diantaranya mengalami psikosis dan membuat diri mereka kelaparan, kata kelompok hak asasi manusia.

Baca Juga: Banjir Hujatan usai Bikin Podcast dengan Isa Zega, Respon Maia Estianty Bikin Netizen Makin Kesal

Dan, di antara jenazah di kamar mayat yang ditemukan adalah adalah Mazen. Mayatnya yang hancur ditemukan terbungkus kain berdarah di Sednaya.

Sementara itu, kejatuhan rezim Assad dikhawatirkan berdampak pada situasi geopolitik regional di Timur Tengah, termasuk Israel dan Palestina.

Lalu bagaimana seharusnya kita bersikap? Ustaz Felix Siauw memberikan pandangannya.

"Respons pertama saya adalah berdoa untuk keselamatan, kebaikan, dan keberkahan bagi Muslim Suriah," tegasnya dalam postingan Instagram-nya.

Ustaz Felix mengatakan sejak 2011, rezim Assad telah mempertontonkan kejahatan sebagaimana layaknya zionis di Palestina, kalau tidak lebih buruk ketimbang itu.

"Salah satu doa yang selalu kita panjatkan saat berjumpa pengungsi Suriah yang kebanyakan wanita dan anak-anak, adalah "Semoga kalian semua bisa kembali dalam keadaan merdeka"," ungkapnya.

Baca Juga: Ketum PSSI Respon Kritik STY Soal Jadwal Piala AFF 2024: Jangan Ngeluh, Fokus Saja

Maka hal yang kita syukuri, mereka bisa lepas dari rezim sadis yang membunuhi secara membabi buta siapapun yang menentangnya.

"Mengenai seperti apa kehidupan mereka setelah "pembebasan" ini, itu doa saya yang berikutnya. Semoga sebagaimana yang kita dengar dan lihat, bahwa Allah akan menjadi tujuan dari kehidupan yang baru ini," tuturnya.

"Bahwa keadilan akan ditegakkan, kasih sayang akan dipertontonkan, dan kebaikan akan disebarkan oleh para mujahidin yang membebaskan Suriah," sambungnya.

Ustaz Felix mengatakan masih terlalu dini mungkin, tapi Suriah selalu menjadi inti dari Syam, wilayah yang akan menjadi penentu dalam membebaskan Baitul Maqdis, bersama dengan Mesir dan Jazirah

"Maka doa ketiga saya adalah, semoga ini adalah titik awal bagi pembebasan Baitul Maqdis, sebagaimana Nuruddin Zanki menjadikan Aleppo, Homs, Hama, dan Damaskus sebagai basisnya," jelasnya.

"Semoga Allah merahmati ummat Nabi Muhammad, menyatukan hati mereka dalam kasih sayang," tutup Ustaz Felix. ***