POJOKSATU.ID, Harga minyak mentah berakhir anjlok. Amerika Serikat (AS) tertekan peningkatan persediaan dan penurunan produksi industri.
Menurut data yang dirilis Federal Reserve, dikutip Pojoksatu.id, pada Sabtu (18/11/2023). Produksi industri minyak AS turun 0,6% pada bulan Oktober karena pemogokan United Auto Workers berdampak pada produksi kendaraan bermotor.
Baca Juga: Korban Tewas di Jalur Gaza Palestina Mencapai 1.200 Orang, Angka Paling Banyak Anak-anak
Analis menyatakan AS memproduksi lebih banyak minyak dibandingkan negara mana pun dalam sejarah, belum lagi produksi di Kanada, Brasil, dan Guyana. Ada juga dampak musiman dari permintaan yang biasanya melambat di musim dingin.
Sementara itu, Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) menyalahkan spekulan atas penurunan harga baru-baru ini, dan menganggap sentimen negatif tidak berlebihan.
Baca Juga: Partai Penguasa di Israel Gagas Rencana Mengejutkan untuk Gulingkan Netanyahu
OPEC mengatakan impor minyak mentah China tetap sehat, meningkat sebesar 11,4 juta barel per hari pada bulan Oktober.
Organisasi tersebut juga menunjuk pada pertumbuhan ekonomi AS yang kuat pada kuartal ketiga dan mencatat bahwa Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan perekonomian China akan tumbuh sebesar 5,4% tahun ini.
“Meskipun fundamental pasar sehat dan mendukung, harga minyak cenderung lebih rendah dalam beberapa pekan terakhir, terutama didorong oleh spekulator pasar keuangan,” kata organisasi tersebut dalam laporan bulanannya.
Baca Juga: Pertahankan Domain pada Android, Google Bayar Samsung Sebesar Rp124,2 Triliun
Sebelumnya, minyak mentah berjangka WTI Amarika Serikat (AS) kontrak Desember berakhir $3,76, atau 4,9%, menjadi $72,90 per barel.
Badan Informasi Energi merilis bahwa minyak mentah AS dan brent mencapai level terendah sejak awal Juli.
Persediaan minyak mentah AS naik 3,6 juta barel pada minggu lalu sementara produksi tetap stabil pada rekor 13,2 juta barel per hari.

