POJOKSATU.ID - Upaya perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran kembali menemui jalan buntu.
Setelah melalui perundingan panjang selama 21 jam, kedua negara gagal mencapai kesepakatan terkait isu krusial program nuklir.
Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance, mengungkapkan bahwa salah satu penyebab utama mandeknya negosiasi adalah sikap Iran yang tidak bersedia memenuhi tuntutan utama Washington.
Menurut Vance, AS meminta komitmen tegas dari Iran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Namun hingga kini, komitmen tersebut belum terlihat.
Baca Juga: Pernyataan Jusuf Kalla di Masjid UGM Terkait Upayanya Mendamaikan Konflik Poso dan Ambon
“Kami perlu jaminan bahwa mereka tidak akan mengembangkan senjata nuklir atau memiliki kemampuan untuk membuatnya dengan cepat. Tapi itu belum kami lihat,” ujar Vance kepada media.
Perundingan yang berlangsung di Islamabad, Pakistan, itu menjadi momen penting karena merupakan dialog tatap muka pertama antara kedua negara sejak Revolusi Islam Iran tahun 1979.
Delegasi AS dipimpin langsung oleh JD Vance, sementara pihak Iran diwakili Ketua Parlemen Mohammad Baqer Qalibaf serta Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi.
Meski sempat disebut berjalan positif di awal, suasana perundingan berubah seiring berjalannya waktu.
Sumber dari Pakistan menyebut dinamika negosiasi berlangsung naik turun, bahkan sempat memanas.
Vance mengklaim pihaknya telah datang dengan itikad baik dan menawarkan pendekatan yang fleksibel. Namun, menurutnya, Iran tetap menolak poin penting yang diajukan AS.
“Kami sudah berusaha maksimal untuk mencapai kesepakatan, tetapi tidak ada kemajuan berarti,” katanya.
Akibat kebuntuan ini, Vance memutuskan untuk menarik kembali delegasi AS dari Islamabad. Langkah ini menandai berakhirnya putaran negosiasi tanpa hasil konkret.
Di sisi lain, pemerintah Iran mengakui adanya perbedaan pendapat selama perundingan. Meski begitu, mereka memastikan dialog belum sepenuhnya berhenti.
Iran menyatakan bahwa pembicaraan akan tetap dilanjutkan melalui jalur teknis, termasuk pertukaran dokumen antar ahli dari kedua negara.
Situasi ini menunjukkan bahwa jalan menuju kesepakatan masih panjang. Ketegangan terkait program nuklir Iran pun diperkirakan akan terus menjadi isu utama dalam dinamika geopolitik global.***

