POJOKSATU.ID - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas setelah Iran mengeluarkan pernyataan terkait akses pelayaran di Selat Hormuz, salah satu jalur perdagangan energi paling vital di dunia.

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan bahwa negara-negara tertentu dapat melintasi Selat Hormuz tanpa hambatan, namun dengan syarat yang cukup kontroversial.

Dalam pengumuman yang disiarkan oleh televisi pemerintah Iran, IRIB, IRGC menyatakan bahwa negara yang mengusir Duta Besar Amerika Serikat dan Israel dari wilayahnya akan diberi kebebasan melintasi jalur strategis tersebut.

Baca Juga: Jejak Panjang Bedug, Diyakini Sejak Zaman Prasejarah, Bagaimana Jadi Bagian Penting Tradisi Masjid di Indonesia?

“Setiap negara Arab atau negara Eropa yang mengusir Duta Besar Israel dan Amerika dari wilayahnya akan memiliki kebebasan penuh untuk melewati Selat Hormuz mulai besok,” demikian pernyataan resmi IRGC yang disampaikan pada Senin (9/3) malam.

Selat Hormuz sendiri diketahui telah ditutup sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara besar-besaran terhadap Iran pada 28 Februari lalu.

Serangan tersebut memicu eskalasi konflik yang kemudian dibalas oleh Teheran dengan meluncurkan rudal dan drone ke sejumlah target di Israel serta negara-negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer Amerika Serikat.

Baca Juga: VIRAL Video Menu MBG Lele Mentah di Pamekasan, BGN Bongkar Fakta Sebenarnya

Konflik yang berlangsung selama sekitar sepekan terakhir itu berdampak besar terhadap jalur pelayaran internasional.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur laut paling penting bagi perdagangan energi global, karena sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati kawasan tersebut.

Selain minyak, jalur ini juga menjadi rute utama ekspor gas alam cair dari kawasan Timur Tengah.

Baca Juga: OTT Kepala Daerah Terus Terulang, Puan Maharani Minta Evaluasi Besar-besaran dan Singgung Biaya Politik Mahal

Namun sejak konflik pecah, aktivitas pelayaran di Selat Hormuz dilaporkan mengalami penurunan drastis.

Perusahaan analisis energi Kpler yang mengoperasikan platform MarineTraffic menyebutkan bahwa lalu lintas kapal tanker di wilayah tersebut turun hingga sekitar 90 persen dalam satu minggu terakhir.

Situasi ini turut memicu lonjakan harga minyak dunia yang kini menembus lebih dari 100 dolar AS per barel.

Kenaikan harga tidak hanya disebabkan oleh penutupan Selat Hormuz, tetapi juga karena perlambatan produksi minyak di sejumlah negara Timur Tengah akibat konflik yang meluas.

Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya telah memperingatkan Iran agar tidak terus memblokade jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Baca Juga: Viral Info Pembagian THR Ojol di Cibubur, Ternyata Hoaks, Aparat Buru Penyebar Pesan

Trump bahkan mengancam akan melancarkan serangan balasan yang jauh lebih besar jika Iran tetap menghambat distribusi minyak global melalui jalur tersebut.

Namun juru bicara IRGC, Ali Mohammad Naini, menegaskan bahwa pasukan Iran tidak akan mengizinkan ekspor minyak dari kawasan menuju negara yang dianggap sebagai sekutu Amerika Serikat dan Israel selama perang masih berlangsung.

Menurutnya, kebijakan tersebut akan tetap berlaku sampai ada perkembangan baru dalam konflik yang sedang berlangsung.***