POJOKSATU.id,-- Kapal fregat Iran IRIS Dena yang ditembak Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) ternyata undangan negara India untuk latihan multinasional MILAN Naval Exercise.

Insiden tenggelamnya kapal Iran IRIS Dena di Samudra Hindia memicu perhatian luas dunia internasional termasuk mantan diplomat senior India, Kanwal Sibal.

Melalui akun X pribadinya, Sibal menjelaskan bahwa kapal milik Angkatan Laut Iran tersebut berada di kawasan itu karena diundang mengikuti latihan multinasional MILAN Naval Exercise di Visakhapatnam yang diselenggarakan Indian Navy atau Angkatan Laut India.

Ia menegaskan bahwa kapal Iran tidak akan berada di perairan tersebut jika India tidak mengundangnya sebagai peserta latihan.

Baca Juga: Direktur Lokataru Delpedro Marhaen dan Admin Gejayan Memanggil Divonis Bebas Majelis Hakim

Menurutnya, dalam protokol latihan MILAN, kapal peserta biasanya tidak membawa amunisi tempur sehingga kemungkinan tidak berada dalam kondisi siap bertempur.

Kanwal Sibal juga menilai serangan terhadap kapal tersebut mengabaikan sensitivitas India karena kapal Iran berada di wilayah tersebut sebagai tamu latihan yang diselenggarakan New Delhi.

Meski demikian, ia menegaskan India tidak memiliki tanggung jawab politik maupun militer atas serangan tersebut.

Namun secara moral dan kemanusiaan, menurut Sibal, para pelaut Iran yang menjadi korban sebelumnya adalah tamu yang telah berpartisipasi dalam latihan militer India.

Ia menilai penyampaian belasungkawa dari Angkatan Laut India akan menjadi langkah yang pantas.

Baca Juga: Terharu! Bupati Karawang Aep Syaepuloh Borong Dagangan Pemuda Difabel Saat Tarling

Di sisi lain, narasi yang lebih keras beredar di media sosial dari akun X bernama “Suppressed News”, yang menyebut kapal Iran tersebut tidak bersenjata, sempat mengikuti parade bersama peserta latihan lain di hadapan Presiden India, dan bahwa Amerika Serikat menarik diri dari latihan sebelum akhirnya menyerang kapal tersebut.

Narasi tersebut juga menyebut operasi penyelamatan korban dilakukan oleh Angkatan Laut Sri Lanka.

Namun bagian tersebut merupakan klaim yang beredar di media sosial dan tidak seluruhnya dikonfirmasi secara resmi.

Pernyataan Kanwal Sibal sendiri menyoroti dimensi diplomatik dan moral dari insiden tersebut, yang kini menjadi sorotan dalam dinamika geopolitik kawasan.***